Total Tayangan Laman

Senin, 02 April 2012

Kerinduan. ~2

Cinta itu datang begitu saja ketika aku tak lagi mengharapkan cinta hadir dalam hidupku. Tadinya aku ragu apakah aku bisa membuka hati yang telah sekian lama beku.

Rasa sakit tentang cinta yang lalu membuatku  berfikir lebih hati-hati tentang sebuah rasa cinta, tanpa kusadari hatiku lama-lama mencair dengan kehadiranmu, perhatianmu, kata-kata manismu, tapi aku masih ragu.
-------------------------- o 0 o -------------------------

Tugas kantor begitu menyita waktuku, hingga sore ini aku belum juga beranjak dari depan meja kerjaku, laporan yang seharusnya sudah selesai siang tadi tertunda gara-gara pertemuan dengan klien yang mendadak, sedikit kecewa dengan keadaan, tapi aku harus menyelesaikannya, aku tak ingin tugas ini membebaniku sampai dirumah. Jadi kuselesaikan semua saat itu juga.

Ku lirik jam ditanganku, 5:15. sepertinya aku tak bisa mampir kerumah sakit , membayangkan jalanan yang super macet saat jam pulang kantor seperti ini dan aku baru saja menyelesaikan laporanku, "HHhhh.. aku butuh istirahat..." keluhku.  ada rasa kecewa menyelimuti dan aku memikirkanmu mungkin saja kamu kecewa aku tak bisa menemanimu sore ini. 
 “maaf….ini diluar kuasaku..” lirihku dalam hati.

 Saat aku tiba sore itu ada rasa sesal kenapa aku tak memenuhi janjiku untuk menengokmu kemarin. Aku melihatmu dari balik kaca yang ada dipintu kamarmu, masih ada seseorang berdiri disamping tempat tidurmu  dia adalah ibumu dan kakakmu,entah kenapa kakakmu pun ada disitu. Oksigen yang menutup sebagian wajahmu telah dilepaskan, nafasmu terlihat teratur dan  suara beep..beep..beep dari alat disamping tempat tidurmu pun tak terdengar lagi. Ada tanda tanya dikepalaku, aku menepis prasangka yang mulai muncul.
Ku ketuk ruanganmu, membuka pintunya dan masuk perlahan ketika ibumu tersenyum melihatku.

“assalamualaikum..… “ sapaku.

‘waalaikumusalam…” jawab ibu dan kakakmu bersamaan.

Kamu hanya melambaikan tanganmu pelan diatas tempat tidur.
Mencium tangan ibumu dan memberinya sedikit pelukan kecil lalu menjabat tangan kakakmu dan tersenyum. Aku mendekatimu kemudian duduk disamping tempat tidurmu.

“hey…maaf..kemaren aku harus menyelesaikan tugas kantorku jadi....” kata-kataku terputus.
Kamu mengangguk pelan mendekatkan ujung telunjuk dibibirmu yang pucat. 

“sst..gak apa-apa..aku mengerti “ .katamu hampr tak terdengar.

“oh ya.. salamnya sudah aku sampaikan dan teman-teman akan kemari besok..” lanjutku.

“ ya..terimakasih.” jawabmu lalu memejamkan mata, seperti ada yang kamu rasakan.

Aku tak berani bertanya padamu, melirik wajah ibumu yang menunduk perlahan saat matanya bertatapan denganku. Sore itu tak banyak cerita aku lebih banyak diam memandangi wajah dan tubuhmu yang terlihat begitu lemah.
Aku pamit, mengelus lembut tanganmu dan seperti biasa membisikan sebuah kata,
kamu mengangguk dan tersenyum.
Aku meninggalkanmu dengan tatapan wajahmu yang begitu sayu, menjajari langkah  ibumu yang mengantarku sampai dibalik pintu. Sebelum pergi aku memberanikan diriku bertanya.

“maaf bunda…sebenarnya apa yang terjadi..?”

“….dokter sudah tidak bisa menyembuhkannya sayang..besok bunda akan bawa dia pulang..” jawab bunda sambil menunduk menahan isaknya.

Aku terkejut, ingin menangis tapi tak bisa, yang ku lakukan hanya memeluk erat  ibumu. Melukiskan perasaan yang sama perlahan ku lepaskan pelukanku, mencium punggung tangannya lalu pamit..meninggalkannya sendiri didepan pintu kamarmu.


Malam ini aku tak bisa melukiskan perasaanku, hanya sajadah panjang tempatku bersimpuh memohon kepada Sang pemilik Jiwa..untuk memberikanmu keajaiban atas penyakitmu. airmata ku biarkan jatuh satu satu menenggelamkan diriku dalam doa untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar