Total Pageviews

Monday, April 16, 2012

lagu cinta itu bukan untukmu.. ~ 2

Rupanya kamu belum bisa melupakan faya sahabatku, aku jadi kasihan sama kamu tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa. Faya lebih memilih orang lain daripada kamu.
Banyak pertimbangan yang Faya utarakan ke aku, dan aku gak mungkin mengutarakan semua itu sama kamu  walaupun kamu teman baik ku. Aku juga tak ingin kamu tahu bahwa sebenarnya aku ada saat kamu datang kerumah faya.

Ku lihat raut wajah kecewa tersembunyi saat Faya bicara padamu waktu itu, aku masih melihat senyummu yang harus kamu paksakan untuk menutupi rasa kecewamu. Aku bisa merasakan kecewamu saat itu. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin juga bagiku untuk membujuk Faya agar menerimamu, aku sahabat  Faya, aku tahu hati Faya untuk siapa?!.

Rupanya rasa itu tak lekang oleh waktu. Walaupun masa telah berlalu kamu masih menyimpan  rasa hati untuk Faya. Tapi kenapa dalam rentang waktu itu kamu seolah mendekatiku dalam cara yang berbeda? Aku bisa rasakan ada rasa lain disana, entahlah semakin lama kamu sepertinya memberikan harapan untuk menumbuhkan rasa lain dihatiku. Aku tak bisa pungkiri  ada rasa lain juga yang hadir dalam hati saat itu.
Tapi saat rasa itu mulai tumbuh kamu seolah menjauh, ku yakinkan diriku bahwa aku salah mengartikan perasaanku, jadi ku tepis rasa itu tetap seperti rasa sebelumnya terhadapmu. Kamu teman baikku tak mungkin aku mengharapkan sesuatu yang aku sendiri gak yakin karenanya. Dan kita pun berpisah untuk waktu yang lama.

Malam itu dipenghujung tahun tanpa di duga kamu datang diacara ulang tahun temanku yang juga temanmu. Kedewasaan terlihat dari penampilanmu. Aku terkejut ketika kamu menyapaku dengan senyum paling manis yang pernah aku temui selama aku jadi temanmu. 

“ kamu…??” kataku tak percaya.

“ iya ini aku..kaget ya..? aku juga gak sangka bisa ketemu kamu lagi disini .” jawabmu.

“ Aku memang masih tinggal didaerah ini kok”. Kataku menghilangkan keterkejutanku.

“ iya aku tadi sempat tanya, ternyata kamu masih disini padahal saat beberapa waktu setelah perpisahan sekolah itu aku sempat mencarimu, katanya kamu kost didekat kampus dan aku gak tahu kamu kuliah dimana?”. Panjang kamu menjelaskan.

Aku mengernyitkan alisku, bingung dengan perkataannya.
“Kamu cari aku..?” tanyaku memastikan yang ku dengar.

“ iya..aku mencari mu, sepertinya kamu menghilang.”  Suaramu terdengar pelan.

“ untuk apa kamu mencariku?”. Masih bingung ku tanyakan itu.

“ Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ?” ujarmu lagi.

Ach… sepertinya aku masih saja jadi tempat curahan hatimu, entah kamu sadar atau tidak  kamu membuka kembali rasa yang pernah kau titipkan dulu , semua itu kini membayang dalam ingatanku. 
“ Apa yang mau kamu tanyakan? Apa masih seputar rasa untuk Faya?  hey..bangun!!. kita sudah berada dalam masa yang berbeda sekarang".  kata ku mengingatkan.

“ oh..ya Faya, bagaimana kabarnya sekarang?”  kamu pura-pura menanyakan.

Aku baru saja mau menjawab ketika kamu tiba2 melanjutkan bicaramu.
“ bukan.. , ini bukan tentang Faya tapi tentang perasaan yang ada sama kamu dulu ?”.

Deg..!! degup jantungku sedikit tersentak. Apa maksudnya ini? ujarku dalam hati, kenapa tiba-tiba saja kamu menanyakan hal itu, apa kamu gak sadar apa yang kamu bicarakan? kamu benar-benar membuatku bingung.

“ maksudmu?”. tanyaku balik.

“  Seorang teman pernah bercerita tentang perasaanmu sama aku setelah sekian lama kita gak pernah ketemu, tadinya aku gak percaya karena ku fikir kita gak akan terlibat dengan rasa yang sama. Dulu aku harus menghindar darimu karena aku nggak ingin pertemanan kita rusak hanya karena rasa yang mulai ada dalam hatiku. Aku takut kamu marah jika tahu rasa lain telah tumbuh, aku tak berani berterus terang, aku tak ingin kamu tahu rasa itu. Aku hanya ingin memastikan apakah yang aku dengar itu benar?”. Panjang kamu ceritakan semua masa lalu itu.

Aku jadi bingung, ingin ku akui itu tapi aku gak sanggup untuk berkata. Ingin ku dustai itu tapi hatiku memang pernah tersentuh oleh rasa. Kalau saja dulu kita mau jujur dengan perasaan kita, mungkin bingung ini tak akan menjadikanku diam seribu bahasa. Yang ku lakukan hanya mendengarkan perkataanmu lagi.

“ kalau saja aku tahu lebih dulu perasaanmu, mungkin aku tak memaksamu untuk bicara dengan Faya, tapi kamu hebat..kamu sembunyikan semua itu bahkan sama sahabatmu sendiri, aku tak bisa bayangkan perasaanmu saat meminta sahabatmu untuk mau menemui ku padahal kamu mengorbankan perasaanmu”.

Aku masih terdiam mendengar semua curahan hati kamu yang entah kenapa baru kamu sampaikan setelah sekian lama. Apa yang harus aku lakukan dengan semua cerita itu. Apa yang harus ku katakan untuk menjelaskan semuanya kalau ternyata itu benar adanya. Sementara saat ini di jari manisku telah melingkar cincin indah pengikat hati.

“aku hanya ingin bilang..aku minta maaf telah menjauh dari kamu saat itu, aku gak bermaksud, aku hanya ingin menghindari perasaan yang lama-lama singgah dihatiku untukmu, aku gak ingin kamu marah sama aku,tapi aku juga gak mau menipu perasaanku kalau aku… suka kamu”.  Lirihmu pelan tertunduk.

“ aku bingung mau ngomong apa?” kataku singkat.

“ katakan saja kalau semua itu benar..katakan saja kalau ternyata kita memang punya rasa yang sama, dengan begitu aku bisa menebus rasa bersalahku padamu, aku ingin menjadikanmu lebih dari temanku, aku ingin kamu jadi teman dekatku". 

kata-katamu  membuatku jadi serba salah. Akhirnya ku beranikan diri untuk bicara denganmu.

“ sudah lah, semuanya sudah berlalu dan aku tak ingin melihatmu kecewa dengan semua cerita itu Aku tak ingin menyakiti rasa yang ada padamu saat ini, tapi kamu seharusnya mengerti perasaan itu tak bisa dipermainkan begitu saja. Dulu kamu datang padaku memintaku untuk membantumu bicara dengan sahabatku tentang perasaanmu, setelah kamu tahu jawabannya entah sadar atau tidak kamu memberikan harapan kepadaku, aku tahu aku menyukaimu sebelum kamu menyadarinya, tapi ku tepis semua itu. Aku menghormatimu sebagai teman baikku. Lalu kemudian kamu menjauh hingga perpisahan itu.
Sekarang kamu datang kepadaku menanyakan perasaanku kepadamu dan memintaku jadi teman dekatmu, apa kamu sadar dengan apa yang kamu goreskan saat ini?, kamu membuka luka yang telah lama aku pendam, kamu merasa seolah-olah aku telah kecewa karena kehilanganmu. Bukan itu, bukan itu yang harus kamu ketahui sekarang ini ?“. Kata-kataku meluncur begitu saja.
 
Kamu memandangku dengan pandangan orang yang merasa bersalah, membuatku perlu menjelaskan dan menyelesaikan semua perasaan ini.

“ Aku terlalu hanyut dengan perasaanku hingga tak sadar kalau kamu  adalah temanku, aku melakukan semua itu dulu karena aku ingin membantumu mengungkapkan rasa, namun sepertinya rasa itu memang tak bisa kamu lupakan. Aku memaklumi itu, hingga akhirnya ku tepis semua rasa tentang mu, menjadikanmu tetap sebagai temanku..Aku memaafkan mu atas rasa yang pernah kita miliki bersama. Aku tak ingin melihatmu kecewa lagi tapi maaf….kamu terlambat. Kamu hanya ada disudut kecil ruang hati. Aku tak ingin mengusik lagi keberadaanmu disana, karena kini  hati dan diri ku telah dimiliki oleh orang lain.” 

Ku pandangi dirimu yang diam menatapku. Aku tahu aku telah mengecewakannya. Tapi ini harus berakhir, masa lalu itu harus berlalu dan pergi. Aku tak ingin keberadaannya saat ini mengusik kebahagiaan yang telah aku dapati.

Tersadar kalau saat itu kita dalam suasana ulang tahun, aku mulai berbaur dengan yang lainnya. Ku lihat kamu maju ke depan memetik gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
".......lagu tentang cinta".

Terbayang kembali saat pasir pantai menyentuh kakiku waktu itu, angin malam menyapa kulitku membuatku merasa kedinginan, kamu memberikan jaketmu, menjagaku seolah takut aku sakit karena dinginnya malam. Kita bersama menyanyikan lagu tentang cinta itu  lagu cinta untukmu walau ku tahu saat itu lagu cinta itu bukan untukku.

Tapi saat ini ketika lagu tentang cinta itu mengalun kembali bisa ku pastikan.
 lagu cinta ini bukan lagi untukmu.....

                                                                       ~ s e l e s a i ~

No comments:

Post a Comment