Total Tayangan Halaman
Rabu, 16 Mei 2012
Senin, 14 Mei 2012
My Window Chat ~ 2
Dalam keheningan malam aku termenung
memikirkan perasaan ku kepadamu. Sepertinya aku ingin memilikimu, bagaimana
caranya agar kamu bisa hadir disini..bukan dijendela obrolan itu. Sesuatu telah
menyentuh hatiku, rasanya ingin ku ungkapkan semua rasa dihatiku, bahwa aku
mencintaimu, bahwa aku ingin kau hadir dalam nyataku, bahwa aku telah
menempatkan dirimu dalam kehidupanku.
“Kenapa ya kamu tak mau memberikan gambar wajahmu? kenapa kamu tak mau memberikan no.telpmu? kenapa kamu tak ingin membicarakan perasaan yang nyatanya telah sama-sama kita rasakan..?”
Semua ini berawal dari pertemanan kita, betapa kita sering berbicara. Walaupun hanya menanyakan tentang kabar atau apa yang sedang kita lakukan saat itu. Semua itu sepertinya membuatku merasa dimiliki,merasa diperhatikan. Sebelumnya belum pernah seseorang berbicara lembut dan tertata rapih sepertimu hingga menimbulkan rasa indah dalam hatiku. Kamu yang pertama mengukirnya. Ya… kamu yang pertama yang menyentuh dalamnya hatiku.
Ach.. mungkin aku terlalu naïf..hingga semua itu menjadikan indah disetiap hari-hari yang aku lewati.
Semakin aku mencoba melupakanmu, semakin aku tak bisa lepas dari namamu. Seperti ada kekuatan yang membuatku selalu ingin bersamamu. Suatu waktu aku pernah menanyakan tentang perasaan ini. mencoba agar aku bisa menemukan sedikit saja wajahmu atau sedikit saja aku ingin mendengar suaramu.
“hi.. may ask you something?”
“hi. Oke.. what are you asking about?”
“ why you can’t give me your picture or your phone number?”
“ I’m so sorry….i have life in here.. and you also have life in there…”
“but…I’ve been love you.. dear”
“ I know.. but I can’t..!”
“Why..dear.?”
Tak ada jawaban, aku menunggu..setiap ku tanyakan perasaanku kamu terdiam. Kemudian muncul kata-kata manis didinding salah satu kelompok dengan gambar yang menunjukan perasaan seseorang. Kenapa tak kamu katakan saja padaku saat kita sedang berbicara, menunggu jawabanmu membuat hatiku jadi tak bisa ku jelaskan.
Pada suatu obrolan ku tanyakan lagi, kenapa kamu tak mau memberikan fotomu, kamu bilang tak ingin membuat aku kecewa, karena mungkin saja itu akan membuatku terluka dengan keadaan kita yang berjauhan.
Sepertinya kamu benar-benar menjaga dirimu. Aku mulai berani mengutarakan perasaanku, dan sepertinya itu tak apa-apa bagimu hanya saja tiap kali ku katakan “ I love you”. Kamu tak pernah membalasnya, apa mungkin kamu tak suka kepadaku?
Malam ini aku kembali bersamamu dalam jendela obrolan itu, menanyakan kabar dirimu juga menanyaka apa yang kamu lakukan saat ini. kamu bilang kamu sedang menyelesaikan sebuah cerita untuk novelmu, aku senang berlama-lama denganmu tapi saat itu aku merasa agak sedih karena besok aku harus pergi tugas untuk beberapa hari, tak ingin rasanya berpisah denganmu walaupun sehari tapi tugas ini lebih penting untuk masa depanku.
Kadang aku membayangkan dirimu, disaat itulah aku ingin sekali melihat wujud nyatamu, mendengar suaramu tapi selalu saja tak berhasil, kamu selalu menolaknya, sempat terpikir kamu membenciku tapi setelah ku tanyakan. Kamu bilang tidak membenciku.. di akhir obrolan kamu selalu bilang
“I miss you..”
Ku katakan
“miss me but not love me?”
Aku sudah duga pasti tak ada jawaban darimu tapi..kali ini kamu berkata.
“tak cukupkah dengan panggilan ku untukmu? Padahal aku selalu memanggilmu dengan kata indah pengganti namamu?
Aku menanyakan arti panggilan namaku, tapi kamu malah balik bertanya kenapa aku tak memanggil namamu?
Ku jawab arti panggilan namamu adalah teman dekat. Ku tunggu jawabanmu, lama.. membuat hatiku jadi penasaran. Lalu kamu membalasnya.
“kamu memanggilku dengan arti teman dekat, tapi aku… aku memanggilmu dengan arti….sayang”
“Oh Tuhan.. aku seakan tak percaya, aku mempunyai rasa cinta tapi masih memanggilnya sahabat.. tapi dia walaupun tak pernah dia ucapkan kata itu, tapi setiap panggilan untukku adalah sayang.
Aku jadi malu sekaligus bahagia..
Malam itu ku katakan aku akan pergi tugas untuk beberapa hari. Aku ingin dia tahu bahwa hidupku kini semakin berarti dengan kehadirannya walau hanya dalam dunia maya.
“oke, I’ll wait for you here”. jawabmu singkat.
ku katakan “ I love U”, seperti biasa kamu akan membalasnya.
“ miss you..Dear..”
Aku ingin berlalu menutup situs jejaring sosialku tapi terasa berat, namamu kulihat masih ada disitu rasanya aku tak ingin meninggalkanmu.
“did you really miss me..beib? ku tanyakan kepadamu.
“ yes..i really miss you, but you must go.. I’ll be fine ..”
‘oke.. I’ll be back soon... I love you…dear.”
“ miss you..”
Tersenyum, ku tutup jendela obrolanku dengan hati tenang seakan tahu bahwa ada yang menanti kehadiranku saat nanti aku kembali.
Selasa, 08 Mei 2012
My Window Chat.. ~ 1
Namamu
menemaniku akhir-akhir ini, saat aku ada dikantor atau saat aku makan siang.
Kadang aku bertanya dalam hati seperti apa wajahmu?.
Dari obrolan bersamamu
seakan-akan aku menemukan sosok cantik nan lembut, kata-kata yang tersusun
rapih dan sopan terasa manis saat aku membacanya, sepertinya kamu wanita yang
cukup pintar.
Sayangnya perbedaan waktu yang begitu jauh membuat aku tak bisa
terus bersamamu, percakapan seakan begitu singkat. Ada rasa takut untuk
mengakui perasaanku bahwa aku telah jatuh cinta pada mu.
Pada sosok cantik
diujung dunia maya itu.
Pagi
ini seperti biasa begitu masuk kedalam ruang kerjaku aku langsung mengaktifkan komputer
pribadiku. Membuka sebuah situs jejaring sosial membaca beberapa status terbaru
mengaktifkan jendela obrolanku, berharap ada kamu disitu untuk menemaniku
menjalani hari ini.
“kosong..”
lirihku begitu ku lihat tak ada tanda-tanda kamu hadir didalamnya.
“Kamu
kemana ya? Sedang apa kamu saat ini? mungkin gak ya kalau saat ini pun kamu
sedang mengingatku? “ fikirku menerawang
jauh.
Ada
rasa ingin tahu lebih dalam tentang kamu tapi bagaimana mungkin, kamu tak
pernah mau menampilkan atau memberikan foto mu, aku hanya bisa membayangkan dirimu
dalam sosok lembut berwajah cantik.
Secangkir
kopi menemani ku pagi ini, membawanya kedekat jendela ruang kerja ku
menghirupnya beberapa teguk sambil melepas pandangan jauh diantara atap
gedung-gedung bertingkat. Aku merasakan kekosongan hatiku.
Telpon
berdering menyadarkanku dalam lamunan tentangmu, ku tekan jalur satu dari
sekretarisku yang mengingatkan bahwa aku harus menghadiri pertemuan. Ku letakkan
perlahan cangkir kopiku dimeja. Melirik sebentar kedalam jendela obrolanku, kamu
tetap tak menunjukan keberadaanmu disana. Ku bereskan kerta kerja yang akan ku bawa dalam pertemuan
dan masih berharap setelah pertemuan itu aku akan menemukanmu kembali.
Jam
istirahat makan siang…..
“Kenapa
fikiranku hanya ada nama kamu ya? Kenapa hidupku jadi berubah semenjak aku
berbicara denganmu? Aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu. Apa aku
benar-benar telah jatuh cinta sama kamu? Ach.. pertanyaan itu semakin membuatku
tak bisa berpaling dari namamu.”
Ngobrol
sama teman-teman kerjaku dalam ruang makan yang sejuk, memesan sebuah jus dan
sepiring roti isi dengan keju didalamnya. Dari membicarakan tentang isi pertemuan
tadi hingga akhirnya berujung pada kisah teman hidup mereka masing-masing. Aku hanya diam
mendengarkan.
Aku tahu saat itu hatiku ingin berbicara denganmu. Aku tahu
hatiku ingin kamu ada disetiap aktifitasku, tapi bagaimana? Aku tak bisa
menunjukkanmu. Aku tak bisa memperlihatkan dirimu dan aku hanya bisa merasakan
kalau kamu telah memenuhi setiap ruang hatiku.
~ o 0 o ~
Kembali
kebelakang meja kerjaku fokus dengan apa yang aku kerjakan hari ini. membuka
kembali komputer pribadiku dan mulai mengerjakan sesuatu. Iseng ku buka lagi situs
jejaring sosial membaca beberapa status terbaru teman-teman dunia mayaku. Tersenyum
sendiri lalu menuliskan beberapa komentar didalamnya hingga mataku tertuju pada
satu status…dari kamu.
“ When love comes suddenly .. sometimes we are afraid to admit it's feeling.
But we cannot deny.
His name is always remembered ..
His face always imagined. And
His sweet words to make sense of happiness ...
a question may arise in your hearts….
"Do I loved him ?."
Only hearts can answer that ...
Hatiku bergetar … ku tekan tanda suka pada statusnya dalam hati aku bertanya. “Apa mungkin perasaan itu yang kamu rasakan?. Ada rasa bahagia saat membaca status itu dan sepertinya kita punya rasa yang sama.
Ku tulis beberapa kata untuk menyapamu dalam kolom pesan, berharap kamu mau membuka jendela obrolanmu. Aku tersenyum
“ hi.. how are you..?
“ hi.. I’m fine thanks..? n you?
“fine thanks.. what are you doing now?”
“just.. talk with you.. n read some news on my PC.?
“I miss you..” aku menulis rasaku.
Tak ada jawaban, ini membuatku penasaran..
“hi…. Are you there..?
Sepi…. Jendela obrolan masih menampilkan namanya, tapi dia tidak membalas obrolanku.
“halloo..!!” ku tulis lagi memastikan apa dia masih disana.
“ hi.. I’m still here.. sorry.”
“are you busy..?
“no. but I’ve to go now.. sorry, see you tomorrow..”
Lalu namanya hilang dari jendela obrolanku. Aku tertegun, rasanya masih ingin berlama-lama dengannya hari ini. Ada rasa kecewa dan marah tapi untuk siapa?
Ku tutup situs jejaring sosialku, tak ingin berada lama-lama jika kamu tak ada disitu. Melanjutkan kembali aktifitasku mencoba untuk tak memikirkan dirimu saat itu hingga tak terasa hari mulai beranjak petang.
Ku matikan komputer pribadiku.
Meraih kunci mobil yang tergeletak dekat telpon lalu beranjak pergi
meninggalkan ruang kerjaku. hatiku sepertinya jadi merasa bersalah. Kenapa ya
aku tak bisa menahan diriku hingga kata kangen keluar begitu saja dari
fikiranku?. Lirih ku sebut namanya..
“ maafkan Aku….”
Kamis, 26 April 2012
Mentari penghangat Hati.
Aku
menangis ditengah sepinya malam, tak menyesali apa yang telah terjadi tapi
belajar menerima apa yang baru saja aku ketahui.
2
minggu sudah ku kejar semua jadwal untuk menyelesaikan pengobatan itu, berharap
untuk cepat kembali kerumah mungilku di pulau Borneo.
Tak
terhitung lagi jumlah uang yang harus ku keluarkan harapanku hanya satu, aku
ingin kepastian dan memberikan yang terbaik untuk malaikat kecilku.
Membujuknya
untuk bangun pagi-pagi, berlomba mengejar waktu dalam padat nya kota Jakarta.
Sungguh sesuatu yang tak mungkin aku lupakan. Menggendong dan menyusuri
bangunan putih yang besar menaiki beberapa anak tangga hingga tiba disebuah
klinik tumbuh kembang,
3 hari
yang lalu dokter menyuruhku membawa kembali malaikat kecilku untuk menjalani
serangkaian test, tak ada yang bisa ku
lakukan selain mengikuti semua petunjuk dokter.
Seorang suster memintaku menebus sebuah obat, kemudian memberiku petunjuk bagaimana
memberikan obat itu. Rasanya tak ingin memberinya obat ini kalau efeknya
ternyata untuk membuatnya tak sadarkan diri, tapi ini harus ku lakukan, beberapa menit kemudian malaikat kecilku terlihat mulai tak sadarkan diri, ku
gendong dia dan ku baringkan ditempat tidur beralaskan seprai putih bersih. Ku
perhatikan seorang perawat mengoleskan semacam gel kebagian-bagian tertentu
dikepalanya perawat satunya lagi
memperhatikan alat yang terdengar mengeluarkan suara beep..beep..beep.. alat
itu merekam aktifitas yang ada dikepala
malaikat kecilku. Aku ingin menangis melihat malaikat kecilku dengan
kabel-kabel yang menempel dikepalanya. Detak jantungku berbegup kencang tapi
aku bisa apa? aku hanya bisa pasrah dengan semua itu. Ku tenangkan diriku
sambil memperhatikan semua gerak gerik suster yang merawat malaikat kecil ku.
“maafkan
mama sayang, ini semua untuk kebaikan kamu” . Begitu batinku menguatkan.
Beberapa
menit kemudian perawat itu mulai melepaskan satu per satu kabel yang menempel,
membersihkan gel yang masih tersisa dan mengangguk pelan kearahku, aku mengerti maksudnya. Ku gendong malaikat
kecilku memeluknya dengan erat. Ku sadarkan dia dengan kecupan sayang,
perlahan matanya mulai terbuka aku tersenyum membelai rambutnya yang masih sedikit
agak basah terkena gel. Ku peluk lagi dan ku kecup lagi keningnya.
" Betapa aku sangat mencintaimu malaikat kecilku". kataku dalam hati.
Masih dalam gendongan malaikat
kecilku memeluk erat tubuhku dengan keadaannya yang masih lemah.
“ kita
pulang sayang, kita pulang. kamu pasti
lelah seharian ini.” bisikku lembut.
Ku tinggalkan bangunan megah berwarna putih
itu menaiki sebuah taksi biru menuju hotel tempatku menginap. Malaikat kecilku
berlindung dalam pelukan hangatku kemudian terlelap kembali dengan senyuman manisnya.
~ o 0 o ~
~ o 0 o ~
Dokter
mempersilahkanku duduk setelah test itu dilakukan. Jantungku sedikit berdebar. Menunggu apa hasil dari test 3 hari yang lalu itu.
“Bagaimana
bu.. sehat?” tanya dokter.
“baik
dokter..cuma agak tegang sedikit “. jawabku pelan berusaha menghilangkan
kegugupanku.
“adek..bagaimana?” tanya dokter lagi sambil memegang lembut tangan malaikat kecilku.
“ baik
dokter.” Jawabku mewakili malaikat kecilku yang asik memainkan sebuah mobil mainan dan botol susunya.
“baiklah..”
dokter itu melanjutkan.
Aku sedikit tegang menunggu dokter berbicara.
“berdasarkan
dari hasil serangkaian test kemarin saya
bisa menyimpulkan bahwa anak ibu mengalami gangguan dipendengarannya, semua struktur telinga, gendang telinganya bagus
hanya saja sepertinya ada gangguan dibagian syaraf telinganya hingga
menyebabkan dia tidak dapat mendengar dengan jelas, maaf ibu ”. dokter itu menjelaskan.
Aku
terdiam memandangi malaikat kecilku yang masih asik dengan mainan dan botol
susunya. Sepertinya dia belum menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Apa
yang harus saya lakukan dokter ?“ tanyaku
kemudian.
“ibu
tak perlu khawatir karena anak ibu masih
dalam masa berkembang dan bisa terbantu dengan pemakaian alat bantu dengar, hanya saja
maaf ibu.. untuk saat ini dia tidak bisa bersekolah di sekolah umum karena nanti
akan membuatnya kesulitan, yang harus ibu lakukan sejak dini adalah mengikuti
terapi dan menstimulasinya dengan suara-suara yang langsung diterima lewat
pendengarannya tak ada salahnya jika
mendengarkan musik lewat headset, itu akan membantu syarafnya bekerja.” jelas
dokter yang sedikit menenangkan ku.
Aku hanya
bisa mengangguk mendengarkan semua
penjelasannya, menanyakan apa saja yang dapat ku lakukan untuk membantu malaikat kecilku
ini. Sesekali ku pandangi tubuh mungilnya, batinku menangis. Tapi aku bisa apa?
“baik
lah kalau begitu, semuanya sudah selesai ada lagi yang ingin ditanyakan ibu..?”. tanya
dokter.
“ Tidak
dokter, saya mengerti..terimakasih atas bantuan dan penjelasannya dok. ini membuat saya sedikit agak tenang menerimanya". jawabku.
ku jabat tangannya kemudian meraih tubuh mungil malaikat kecilku.
Dokter menjabat tangan mungil itu dan mengusapnya lembut. Malaikat kecilku
hanya memandangi dengan wajahnya yang polos dan dengan langkah kecilnya mengiringiku meninggalkan ruangan dokter yang sejuk ber AC.
~ o 0 o ~
Malam itu
terasa begitu sunyi, kubayangkan seperti inilah mungkin yang dirasakan malaikat
kecilku. Dalam keheningan hidupnya.
Hp ku berdering,
ku lihat layarnya sebentar memastikan orang yang ku tunggu yang menghubungiku
saat ini.
“
selamat malam sayang.. bagaimana testnya hari ini ?” suara yang begitu akrab
ditelingaku terdengar disana.
“ met
malam cinta..” balasku berusaha menahan rasa dihatiku.
“bagaimana
keadaanmu juga malaikat kecil kita? Apa dia baik-baik saja?. tanya suara itu lagi.
Aku terdiam
menyusun kata-kataku rasanya tak ingin memberitahunya, tak ingin dia merasakan
hal yang sama ini, tak bisa ku bayangkan perasaannya jika tahu hal yang
sebenarnya. Tapi semua harus dibicarakan.
“
halo.. kamu masih disitu kan sayang?” suara itu menyadarkan ku.
“oh iya..
suaranya agak kurang jelas disini, mungkin aku harus pindah keluar ruangan.” alih ku. Padahal aku sedang bingung bagaimana
menyampaikan ini semua padanya.
“oke..oke
mungkin sinyal dalam kamar ini yang jelek, tunggu sebentar aku akan ke balkon”. terdengar hening, kemudian.
“halo..halo.bagaimana
sekarang?” suara itu terdengar lagi.
“iya. bagus?”
jawabku sekenanya.
“oke. Mmm..bagaimana
tadi testnya berjalan lancar? apa hasilnya?” tanyanya kembali.
HHhh..ku
tarik nafas panjang sebelum menjawabnya.
“ alhamdulillah
semua berjalan lancar, dari rumah sampai RS. Dokternya, testnya dan sampai
rumah lagi, hanya saja cinta…” kataku menghentikan kata-kataku.
“ Ada
apa? Apa kata dokter? Bagaimana hasil testnya? Ada apa dengan malaikat kecil
kita?”. Suara itu terdengar penasaran dan memberiku banyak pertanyaan.
“semua
berjalan cukup lancar, hanya saja hasilnya…, maaf cinta.. sepertinya dugaanku
benar, malaikat kecil kita mengalami gangguan dipendengarannya.” kataku
tersendat airmata tak kuasa ku bendung,
rasanya aku ingin berada dalam pelukannya saat ini.
Suara itu tak terdengar,
hanya helaan nafas panjang yang ku tangkap sayup-sayup.
“halo..cinta,
kamu mendengarkanku.?” tanyaku ketika suara itu sepertinya menghilang.
“ iya…aku
disini sayang”. Jawab suara itu pelan.
“ Aku
minta maaf cinta, aku benar-benar minta maaf mungkin semua ini salahku, aku tak bisa
merawatnya dengan benar..” Isak ku menyalahkan diriku sendiri.
“tidak..
kamu tak perlu minta maaf sayang, aku tahu apa yang sudah kamu lakukan untuk
malaikat- malaikat kecil kita, aku tahu diri mu, ini semua sudah takdir dari
Yang Maha Menguasai Segalanya , kita
hadapi saja semua ini bersama tak ada yang harus disalahkan “. Suara itu
berusaha menenangkan ku.
“ saat
ini yang ke butuhkan hanya semangat darimu, rasanya aku ingin berlari kedalam
pelukamu cinta, rasanya aku tak kuat menahan rasa ini sendiri..” tangisku tak bisa ku tahan lagi.
“ssstt…sayang,
sudahlah jangan menangis, hapus air matamu, aku bisa merasakan apa yang kamu
rasakan saat ini. Sekarang istirahat lah, aku tahu kamu pasti capek beberapa
hari ini, semuanya kini sudah jelas. Ingat lah satu hal.. aku sangat sayang
padamu juga pada buah hati kita, yang harus kita lakukan sekarang adalah
memberikan yang terbaik untuknya semampu kita. Tidurlah sayangku.. aku akan
memelukmu dari sini dengan segala rasa sayang dan cintaku.” suara itu terdengar
bergetar namun bisa membuatku sedikit tenang.
“baiklah..
aku akan mencoba untuk tidur malam ini, terimakasih telah begitu mengerti
rasaku cinta.. bantu aku dalam doa malammu, bantu aku dengan kekuatan
cinta kamu..aku membutuhkannya malam ini, aku menyayangimu cinta.” dengan masih terisak ku hapus airmataku.
“ iya
aku tahu..istirahatlah sayangku. I love
you..” ucap suara itu lembut.
“ I love
you too..”
Lalu semuanya
kembali sunyi.. sunyi dikeramaian kota Jakarta yang tak pernah tidur. hatiku masih menangis, aku teringat ucapan belahan hatiku diseberang pulau sana, mengingatkanku pada Sang Pemilik Jiwa. ku basuh tubuhku mensucikan diri dengan wudhu, menghamparkan sajadah disudut ruangan. melantunkan ayat-ayat suci yang cukup terasa mengetarkan jiwaku saat itu.
Ku pandangi malaikat kecilku yang telah tertidur pulas dengan mimpinya. botol susu yang kosong tergeletak begitu saja di sebelah bantalnya. membayangkan wajahnya yang mungil, membayangkan hari-hari yang kelak dilaluinya dalam kesunyian, dan aku tak kuasa lagi menahan airmataku.
~ With Love ~
2012
Bersimpuh aku dalam do'a malam itu.
"ya Rabb... Ampunilah dosa dan kesalahan hamba, tolonglah hamba ya Rabb.. berikan hamba kekuatan, berikan hamba cukup kesabaran menerima ini semua dengan ikhlas. hamba yakin Engkau akan memberikan yang terbaik untuknya, lindungilah buah hati hamba, jagalah dia ya Rabb, lindungilah dia karena hanya Engkau lah sebaik-baiknya Pelindung............."
Ku tumpahkan segala sedih dan tangisku malam itu menenggelamkan diriku dalam doa yang panjang..untuk malaikat kecilku.
mengingat kembali tubuh mungilnya, wajahnya yang lucu, tangisnya, gerak geriknya yang membuat ceria suasana dan senyumnya...senyumnya seperti matahari yang menghangatkan hati. seperti arti namanya.
" Mentari Penghangat Hati"
mengingat kembali tubuh mungilnya, wajahnya yang lucu, tangisnya, gerak geriknya yang membuat ceria suasana dan senyumnya...senyumnya seperti matahari yang menghangatkan hati. seperti arti namanya.
" Mentari Penghangat Hati"
2012
Senin, 16 April 2012
lagu cinta itu bukan untukmu.. ~ 2
Rupanya kamu belum bisa melupakan faya
sahabatku, aku jadi kasihan sama kamu tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa.
Faya lebih memilih orang lain daripada kamu.
Terbayang
kembali saat pasir pantai menyentuh kakiku waktu itu, angin malam menyapa
kulitku membuatku merasa kedinginan, kamu memberikan jaketmu, menjagaku seolah
takut aku sakit karena dinginnya malam. Kita bersama menyanyikan lagu tentang
cinta itu lagu cinta untukmu walau ku tahu
saat itu lagu cinta itu bukan untukku.
Tapi saat ini ketika lagu tentang cinta itu mengalun kembali bisa ku pastikan.
lagu cinta ini bukan lagi untukmu.....
~ s e l e s a i ~
Banyak pertimbangan yang Faya
utarakan ke aku, dan aku gak mungkin mengutarakan semua itu sama kamu walaupun kamu teman baik ku. Aku juga tak
ingin kamu tahu bahwa sebenarnya aku ada saat kamu datang kerumah faya.
Ku
lihat raut wajah kecewa tersembunyi saat Faya bicara padamu waktu itu, aku
masih melihat senyummu yang harus kamu paksakan untuk menutupi rasa kecewamu. Aku bisa merasakan kecewamu saat itu. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin juga
bagiku untuk membujuk Faya agar menerimamu, aku sahabat Faya, aku tahu hati Faya untuk siapa?!.
Rupanya
rasa itu tak lekang oleh waktu. Walaupun masa telah berlalu kamu masih
menyimpan rasa hati untuk Faya. Tapi
kenapa dalam rentang waktu itu kamu seolah mendekatiku dalam cara yang berbeda?
Aku bisa rasakan ada rasa lain disana, entahlah semakin lama kamu sepertinya
memberikan harapan untuk menumbuhkan rasa lain dihatiku. Aku tak bisa pungkiri ada rasa lain juga yang hadir dalam hati saat
itu.
Tapi saat rasa itu mulai tumbuh kamu seolah menjauh, ku yakinkan diriku
bahwa aku salah mengartikan perasaanku, jadi ku tepis rasa itu tetap seperti
rasa sebelumnya terhadapmu. Kamu teman baikku tak mungkin aku mengharapkan
sesuatu yang aku sendiri gak yakin karenanya. Dan kita pun berpisah untuk waktu
yang lama.
Malam
itu dipenghujung tahun tanpa di duga kamu datang diacara ulang tahun temanku
yang juga temanmu. Kedewasaan terlihat dari penampilanmu. Aku terkejut ketika
kamu menyapaku dengan senyum paling manis yang pernah aku temui selama aku jadi
temanmu.
“
kamu…??” kataku tak percaya.
“ iya
ini aku..kaget ya..? aku juga gak sangka bisa ketemu kamu lagi disini .”
jawabmu.
“ Aku
memang masih tinggal didaerah ini kok”. Kataku menghilangkan keterkejutanku.
“ iya
aku tadi sempat tanya, ternyata kamu masih disini padahal saat beberapa waktu
setelah perpisahan sekolah itu aku sempat mencarimu, katanya kamu kost didekat
kampus dan aku gak tahu kamu kuliah dimana?”. Panjang kamu menjelaskan.
Aku
mengernyitkan alisku, bingung dengan perkataannya.
“Kamu
cari aku..?” tanyaku memastikan yang ku dengar.
“
iya..aku mencari mu, sepertinya kamu menghilang.” Suaramu terdengar pelan.
“ untuk
apa kamu mencariku?”. Masih bingung ku tanyakan itu.
“ Ada
sesuatu yang ingin aku tanyakan ?” ujarmu lagi.
Ach…
sepertinya aku masih saja jadi tempat curahan hatimu, entah kamu sadar atau
tidak kamu membuka kembali rasa yang pernah kau titipkan dulu , semua itu kini membayang dalam ingatanku.
“ Apa
yang mau kamu tanyakan? Apa masih seputar rasa untuk Faya? hey..bangun!!. kita
sudah berada dalam masa yang berbeda sekarang". kata ku mengingatkan.
“ oh..ya
Faya, bagaimana kabarnya sekarang?” kamu pura-pura menanyakan.
Aku
baru saja mau menjawab ketika kamu tiba2 melanjutkan bicaramu.
“
bukan.. , ini bukan tentang Faya tapi tentang perasaan yang ada sama
kamu dulu ?”.
Deg..!!
degup jantungku sedikit tersentak. Apa maksudnya ini? ujarku dalam hati, kenapa
tiba-tiba saja kamu menanyakan hal itu, apa kamu gak sadar apa yang kamu
bicarakan? kamu benar-benar membuatku bingung.
“
maksudmu?”. tanyaku balik.
“ Seorang teman pernah bercerita tentang
perasaanmu sama aku setelah sekian lama kita gak pernah ketemu, tadinya aku gak
percaya karena ku fikir kita gak akan terlibat dengan rasa yang sama. Dulu aku
harus menghindar darimu karena aku nggak ingin pertemanan kita rusak hanya
karena rasa yang mulai ada dalam hatiku. Aku takut kamu marah jika tahu rasa lain
telah tumbuh, aku tak berani berterus terang, aku tak ingin kamu tahu rasa itu.
Aku hanya ingin memastikan apakah yang aku dengar itu benar?”. Panjang kamu
ceritakan semua masa lalu itu.
Aku
jadi bingung, ingin ku akui itu tapi aku gak sanggup untuk berkata. Ingin ku
dustai itu tapi hatiku memang pernah tersentuh oleh rasa. Kalau saja dulu kita
mau jujur dengan perasaan kita, mungkin bingung ini tak akan menjadikanku diam
seribu bahasa. Yang ku lakukan hanya mendengarkan perkataanmu lagi.
“ kalau
saja aku tahu lebih dulu perasaanmu, mungkin aku tak memaksamu untuk bicara
dengan Faya, tapi kamu hebat..kamu sembunyikan semua itu bahkan sama sahabatmu
sendiri, aku tak bisa bayangkan perasaanmu saat meminta sahabatmu untuk mau
menemui ku padahal kamu mengorbankan perasaanmu”.
Aku
masih terdiam mendengar semua curahan hati kamu yang entah kenapa baru kamu
sampaikan setelah sekian lama. Apa yang harus aku lakukan dengan semua cerita
itu. Apa yang harus ku katakan untuk menjelaskan semuanya kalau ternyata itu
benar adanya. Sementara saat ini di jari manisku telah melingkar cincin indah
pengikat hati.
“aku
hanya ingin bilang..aku minta maaf telah menjauh dari kamu saat itu, aku gak
bermaksud, aku hanya ingin menghindari perasaan yang lama-lama singgah dihatiku
untukmu, aku gak ingin kamu marah sama aku,tapi aku juga gak mau menipu
perasaanku kalau aku… suka kamu”. Lirihmu pelan tertunduk.
“ aku
bingung mau ngomong apa?” kataku singkat.
“ katakan
saja kalau semua itu benar..katakan saja kalau ternyata kita memang punya rasa yang
sama, dengan begitu aku bisa menebus rasa bersalahku padamu, aku ingin
menjadikanmu lebih dari temanku, aku ingin kamu jadi teman dekatku".
kata-katamu membuatku jadi serba
salah. Akhirnya ku beranikan diri untuk bicara denganmu.
“ sudah
lah, semuanya sudah berlalu dan aku tak ingin melihatmu kecewa dengan semua
cerita itu Aku tak ingin menyakiti rasa yang ada padamu saat ini, tapi kamu
seharusnya mengerti perasaan itu tak bisa dipermainkan begitu saja. Dulu
kamu datang padaku memintaku untuk membantumu bicara dengan sahabatku tentang
perasaanmu, setelah kamu tahu jawabannya entah sadar atau tidak kamu memberikan
harapan kepadaku, aku tahu aku menyukaimu sebelum kamu menyadarinya, tapi ku
tepis semua itu. Aku menghormatimu sebagai teman baikku. Lalu kemudian kamu
menjauh hingga perpisahan itu.
Sekarang
kamu datang kepadaku menanyakan perasaanku kepadamu dan memintaku jadi teman
dekatmu, apa kamu sadar dengan apa yang kamu goreskan saat ini?, kamu membuka
luka yang telah lama aku pendam, kamu merasa seolah-olah aku telah kecewa
karena kehilanganmu. Bukan itu, bukan itu yang harus kamu ketahui sekarang ini
?“. Kata-kataku meluncur begitu saja.
Kamu
memandangku dengan pandangan orang yang merasa bersalah, membuatku perlu
menjelaskan dan menyelesaikan semua perasaan ini.
“ Aku
terlalu hanyut dengan perasaanku hingga tak sadar kalau kamu adalah temanku, aku melakukan semua itu dulu
karena aku ingin membantumu mengungkapkan rasa, namun sepertinya rasa itu
memang tak bisa kamu lupakan. Aku memaklumi itu, hingga akhirnya ku tepis semua
rasa tentang mu, menjadikanmu tetap sebagai temanku..Aku memaafkan mu atas rasa
yang pernah kita miliki bersama. Aku tak
ingin melihatmu kecewa lagi tapi maaf….kamu terlambat. Kamu hanya ada disudut
kecil ruang hati. Aku tak ingin mengusik lagi keberadaanmu disana, karena kini hati dan diri ku telah dimiliki oleh orang lain.”
Ku
pandangi dirimu yang diam menatapku. Aku tahu aku telah mengecewakannya. Tapi
ini harus berakhir, masa lalu itu harus berlalu dan pergi. Aku tak ingin
keberadaannya saat ini mengusik kebahagiaan yang telah aku dapati.
Tersadar
kalau saat itu kita dalam suasana ulang tahun, aku mulai berbaur dengan yang
lainnya. Ku lihat kamu maju ke depan memetik gitar dan mulai menyanyikan sebuah
lagu.
".......lagu tentang cinta".
Tapi saat ini ketika lagu tentang cinta itu mengalun kembali bisa ku pastikan.
lagu cinta ini bukan lagi untukmu.....
~ s e l e s a i ~
Sabtu, 14 April 2012
lagu cinta itu bukan untukmu... ~1
Aku
duduk sendirian diteras taman sekolah dibawah pohon rindang sambil membaca
sebuah buku pelajaran saat kamu datang menghampiri.
kalau saja kamu tahu rasa
dalam hatiku, mungkin kamu tak akan menanyakan hal itu lagi padaku tapi aku
temanmu..tempat kamu berbagi cerita.
“ Bagaimana...?”
katamu saat itu.
“ Ya
kamu bilang aja sendiri nanti kamu akan tahu jawabanya ”. Kataku pelan
.
“ Tapi
gimana caranya kamukan sahabatnya?” Tanya kamu lagi.
“ Aku
memang sahabatnya tapi inikan perasaanmu bukan perasaanku?!”. Jelasku.
“ Tapi
kamu mau bantu aku kan buat ngomong sama dia?”. Pintanya. Aku menarik nafas.
“ Oke..
nanti aku ngomong sama dia”. Jawabku sambil berdiri.
“ Terimakasih
ya..” katamu dengan senyum mengembang.
Bel masuk
sayup-sayup terdengar ku bereskan buku ku lalu melangkah pergi menuju kelas dan
kamu berlari kecil meninggalkanku.
Bingung
bagaimana memulainya, aku tahu sahabatku sedang mencoba dekat dengan seseorang
dan aku bisa merasakan kegembiraannya tapi aku juga nggak mau buat temanku
kecewa.
Jadi siang itu aku memberanikan diri untuk mengajak sahabatku bicara
dikantin sekolah saat istirahat.
“ Fay..kamu
tau cowok manis dikelas sebelah?” tanyaku.
“ Mm…ya
kenapa?” Jawab sahabatku.
“ Siang
nanti dia mau main kerumahmu..boleh?” . tanyaku lagi sambil menyeruput sebotol
minuman ringan
Sahabatku
tak langsung menjawab dia kelihatan berfikir sejenak aku mengerti,
jadi ku
tunggu saja sampai dia mau buka suara.
“ Bagaimana Fay…” tanyaku lagi.
“ Tapi
kamu ikut kerumahku juga kan?” katanya membuatku terkejut. Bagaimana tidak aku
tahu maksud temanku datang kerumah sahabatku. Kalau temanku tahu tentu itu akan
membuatnya malu.
“ Ya
nggak enak lah fay “ elak ku.
“ Temani
aku lah.. aku gak mau menemuinya sendirian”. Rayu faya.
“ Tapi
fay…” lanjutku.
“ Kamu
kerumahku sebelum dia datang, jadi dia gak tau kamu ada disitu..?” pinta faya
sambil memegang tanganku. “ Ayo
lah..kamu kan sahabatku” . mohon faya.
“ Oke
deh…” lanjutku menyerah.
Faya
tersenyum padaku kemudian kami kembali menikmati jam istirahat dikantin yang
ramai. Aku menitipkan sepucuk surat lewat teman sekelas kamu, aku tahu kamu
pasti sedang menunggu kabar dariku dan semoga saja kabar ini akan membuatmu
senang.
Jadi saat
pulang sekolah itu aku langsung menghubungi rumah, titip pesan sama orang rumah
kalo aku terlambat pulang sekolah kalau mama pulang dari belanja nanti mama tak akan mencariku.
Faya
langsung mengajakku masuk ke kamarnya saat tiba dirumah, membuka lemari pakaian lalu
mengambil beberapa helai kaos dan menyerahkan padaku untuk memilih mana yang
akan aku pakai buat ganti baju seragamku. Aiihh..Faya. aku jadi malu sendiri.
“ Aku
kedapur ya. kamu ganti baju aja dulu”. ujar Faya lalu berlalu dan menutup
pintu, membiarkanku dikamarnya sendirian.
Aku keluar
kamar menuju ruang tengah biasanya aku dan faya duduk disitu sambil mengerjakan
tugas sekolah bersama, faya sudah ganti bajunya dengan t-shirt berwarna pink
dan jeans biru ¾. terlihat santai. Segelas es jeruk disodorkan kearahku dia
sendiri meminum segelas es jeruknya sampai habis. Aku tertawa melihatnya, gak
lama si mbak datang membawa 2 piring nasi goreng meletakkannya dimeja makan
kemudian kembali lagi ke dapur.
“ Makan dulu yuk…nanti kita terusin lagi
ngobrolnya “. Ajak faya seraya menarik tanganku.
Nasi goreng
si mbak memang enak, aku dan faya melahapnya sampai habis, segelas air putih
menyelesaikan makan siangku
Aku dan
Faya terlibat dalam obrolan yang sedikit agak serius, ku terangkan maksud
kedatangan cowok manis itu mencoba menanyakan langsung bagaimana pendapat Faya
tentang itu, Faya kelihatannya agak ragu dan aku memakluminya karena aku tahu Faya
juga lagi suka sama seseorang, hanya saja cowok itu belum menyatakan sukanya
sama Faya.
Yang ku tahu belakangan ini temanku lagi pendekatan sama Faya, aku lihat
sikap Faya yang biasa saja seperti biasanya baik sama setiap orang.
“ Kelihatannya
sih baik..tapi bagaimana ya?” bimbang Faya.
“ Yang
punya keputusan kan kamu Fay, aku sih cuma menyampaikan saja.” Jelasku.
Faya
tersenyum kearahku kemudian menempelkan jari telunjuknya ke bibir sambil
menunjuk pintu depan yang tiba-tiba saja berbunyi. Aku tahu maksud Faya segera
saja aku diam menahan suaraku.
Si mbak
membukakan pintu menyuruh tamu itu menunggu dan mempersilahkannya duduk diteras
depan rumah kemudian meninggalkannya. Faya yang sudah tahu ada tamu untuknya
mengangguk saat si mbak memberitahu, Faya mengajakku keruang
tamu, mengintip siapa yang datang dari balik tirai tebal di jendela. Aku mau
berbalik keruang tengah ketika tiba-tiba tangan Faya menahanku dan berbisik agar aku tak
meninggalkannya sendiri. Faya memintaku untuk tetap diruang tamu sementara dia pergi menuju teras depan menemui
sang tamu. Faya mengacungkan tinjunya dibalik pintu sambil tersenyum kearahku,
aku mengangguk sambil tertawa tertahan.
Langganan:
Postingan (Atom)