Total Tayangan Halaman

Rabu, 16 Mei 2012

My Window Chat ~ 3


Ku raih komputer pribadiku malam itu, membuka situs jejaring sosial dan mendapatkan banyak pesan masuk disana, dari kamu.
Sepertinya kamu sangat kehilanganku itu tergambar dari pesanmu yang berkali-kali berkata “ I miss you..”  disetiap akhir pesanmu.
Aku tak kuasa menahan hatiku kalau aku benar-benar menyukaimu. Aku ingin melihatmu nyata, aku ingin kamu tahu aku benar-benar suka. Ku minta berkali-kali, tapi kamu tidak juga mengijinkanku melihat fotomu, entah lah aku tak mengerti alasanmu, sepertinya aku jadi benci hidupku, benci pada diriku sendiri, kenapa rasa ini harus menguasaiku. Saat ku tanyakan kembali, kamu malah memintaku untuk membencimu… kamu bilang, semua yang aku inginkan tak mungkin kamu berikan, dan itu hanya akan membuatku terluka.
Aku tak tahu lagi harus bagaimana, rasa inginku membuatku membencimu, terfikirkan bahwa kamu telah mempermainkan aku, bahwa kamu tak percaya dengan diriku. Ku telusuri jejakmu, mencari dirimu dalam profil mu, sempat ku lihat beberapa foto diri, dan menduga ini adalah dirimu..tapi aku salah, saat ku baca komentar balik dirimu, kamu berkata “ini bukan diriku”. Jadi sebenarnya yang mana dirimu?”.
Aku tengggelam dalam rasaku sendiri, menyesali kenapa aku jatuh cinta padanya, kenapa dia lah yang pertama mengisi hatiku, kenapa semua terjadi dalam hidupku..semakin ku bertanya semakin aku tak menyukai hidupku.
Terkunci dalam perasaan yang tak bisa ku wujudkan.
Kamu pernah bilang,
“semakin kamu memaksa diriku untuk keinginanmu..semakin aku kehilangan dirimu”.
Tadinya aku tak memahami benar perkataanmu, aku hanya berfikir kamu tak mempercayaiku. Tapi ternyata aku malah membuatmu sedih, membuatmu kecewa, kamu malah memintaku untuk melupakanmu. Aku tak inginkan itu, tapi aku penasaran dengan dirimu. Aku marah, aku kesal dengan dirimu yang membiarkan perasaanku seperti ini, emosiku lebih bermain daripada perasaanku. Ku tinggalkan kamu begitu saja dalam jendela obrolanku saat itu. Mengucapkan selamat tinggal untuk dirimu.
                                                        ~ o 0 o ~
Malam itu aku merasa sangat  ingin melihat namamu, ku buka situs jejaring sosial itu mendapatkan begitu panjang dan banyak pesan darimu. Kamu menjelaskan semua alasanmu. Katamu kamu sangat terluka dengan sikapku, tapi kamu tak marah, kamu tak membenciku. Kamu malah meminta maaf dan mengucapkan terimakasih karena aku telah  memberikan rasa sukaku kepadamu. Kamu memintaku memaafkan dirimu dan jika aku mau aku boleh melupakan dirimu, tak ada sedikit pun rasa marah dalam kata-katamu.
 inilah yang membuatku merasa kamu adalah wanita cantik dan lembut yang pernah ku temui dalam hidupku, kamu lah orang pertama yang membuat aku merasakan jatuh dalam rasa cinta.
Aku menyesal telah bersikap dingin kepadamu, membencimu, marah dengan dirimu. Baru ku sadari kini, semakin penasaran aku, semakin kamu menjaga dirimu. Akhirnya  bukan kamu yang kehilangan diriku, tapi aku yang kehilangan dirimu. Ku temui akhir pesanmu malam itu… agak terkejut aku membacanya. Kamu bilang selama ini kamu ada di sebuah rumah sakit, berjuang melawan sakitmu dan berkata mungkin hidupmu tak akan lama. Lagi- lagi kamu meminta maaf karena telah mengecewakanku, berterimakasih untuk rasa cinta yang aku berikan untukmu, mengucapkan selamat tinggal dan mengakhirinya dengan menuliskan kata itu, kata yang sangat aku inginkan.
“I love you”
Aku terpaku….aku sudah mengucapkan selamat tinggal untukmu, sungguh segalanya menjadi terlambat sekarang. Aku inginkan dirimu untuk mencintai aku, aku inginkan dirimu untuk mengisi hari-hariku, tapi aku malah membuat dirimu kecewa, mematahkan hati yang selama ini ingin ku miliki. Membuatmu menangis, meninggalkanmu disaat rasa cinta itu pun menyentuh dirimu. Kini aku benar-benar kehilangan dirimu, kehilangan sosok cantik dan lembut dalam jendela obrolanku.
“oh..dear…I’m so sorry..!”
Aku menangis, seorang laki-laki yang menangis dimalam yang begitu sepi. Hanya penyesalan yang ku rasakan, hanya kehilangan yang ku dapatkan, entah kapan ku temui lagi sosok cantik dan lembut itu, kini semuanya telah berlalu..
    “ Ku lukai hatimu…dan ku lukai hatiku sendiri… Maafkan aku…!”

Senin, 14 Mei 2012

My Window Chat ~ 2

Dalam keheningan malam aku termenung memikirkan perasaan ku kepadamu. Sepertinya aku ingin memilikimu, bagaimana caranya agar kamu bisa hadir disini..bukan dijendela obrolan itu. Sesuatu telah menyentuh hatiku, rasanya ingin ku ungkapkan semua rasa dihatiku, bahwa aku mencintaimu, bahwa aku ingin kau hadir dalam nyataku, bahwa aku telah menempatkan dirimu dalam kehidupanku.
“Kenapa ya kamu tak mau memberikan gambar wajahmu? kenapa kamu tak mau memberikan no.telpmu? kenapa kamu tak ingin membicarakan perasaan yang nyatanya telah sama-sama kita rasakan..?”
Semua ini berawal dari pertemanan kita, betapa kita sering berbicara. Walaupun hanya menanyakan tentang kabar atau apa yang sedang kita lakukan saat itu. Semua itu sepertinya membuatku merasa dimiliki,merasa diperhatikan. Sebelumnya belum pernah seseorang berbicara lembut dan tertata rapih sepertimu hingga menimbulkan rasa indah dalam hatiku. Kamu yang pertama mengukirnya. Ya… kamu yang pertama yang menyentuh dalamnya hatiku.
 Ach.. mungkin aku terlalu naïf..hingga semua itu menjadikan indah disetiap hari-hari yang aku lewati.
Semakin aku mencoba melupakanmu, semakin aku tak bisa lepas dari namamu. Seperti ada kekuatan yang membuatku selalu ingin bersamamu. Suatu waktu aku pernah menanyakan tentang perasaan ini. mencoba agar aku bisa menemukan sedikit saja wajahmu atau sedikit saja aku ingin mendengar suaramu.
“hi.. may ask you something?”
“hi. Oke.. what are you asking about?”
“ why you can’t give me your picture or your phone number?”
“ I’m so sorry….i have life in here.. and you also have life in there…”
“but…I’ve been love you.. dear”
“ I know.. but I can’t..!”
“Why..dear.?”
Tak ada jawaban, aku menunggu..setiap ku tanyakan perasaanku kamu terdiam. Kemudian muncul kata-kata manis didinding salah satu kelompok dengan gambar yang menunjukan perasaan seseorang. Kenapa tak kamu katakan saja padaku saat kita sedang berbicara, menunggu jawabanmu membuat hatiku jadi tak bisa ku jelaskan.
Pada suatu obrolan ku tanyakan lagi, kenapa kamu tak mau memberikan fotomu, kamu bilang tak ingin membuat aku kecewa, karena mungkin saja itu akan membuatku terluka dengan keadaan kita yang berjauhan.
Sepertinya kamu benar-benar menjaga dirimu. Aku mulai berani mengutarakan perasaanku, dan sepertinya itu tak apa-apa bagimu hanya saja tiap kali ku katakan “ I love you”. Kamu tak pernah membalasnya, apa mungkin kamu tak suka kepadaku?
Malam ini aku kembali bersamamu dalam jendela obrolan itu, menanyakan kabar dirimu juga menanyaka apa yang kamu lakukan saat ini. kamu bilang kamu sedang menyelesaikan sebuah cerita untuk novelmu, aku senang berlama-lama denganmu tapi saat itu aku merasa agak sedih karena besok aku harus pergi tugas untuk beberapa hari, tak ingin rasanya berpisah denganmu walaupun sehari tapi tugas ini lebih penting untuk masa depanku.
Kadang aku membayangkan dirimu, disaat itulah aku ingin sekali melihat wujud nyatamu, mendengar suaramu tapi selalu saja tak berhasil, kamu selalu menolaknya, sempat terpikir kamu membenciku tapi setelah ku tanyakan. Kamu bilang tidak membenciku.. di akhir obrolan kamu selalu bilang
“I miss you..”
Ku katakan
“miss me but not love me?”
Aku sudah duga pasti tak ada jawaban darimu tapi..kali ini kamu berkata.
“tak cukupkah dengan panggilan ku untukmu?  Padahal aku selalu memanggilmu dengan kata indah pengganti namamu?
Aku menanyakan arti panggilan namaku, tapi kamu malah balik bertanya kenapa aku tak memanggil namamu?
Ku jawab arti panggilan namamu adalah teman dekat. Ku tunggu jawabanmu, lama.. membuat hatiku jadi penasaran. Lalu kamu membalasnya.
“kamu memanggilku dengan arti teman dekat, tapi aku… aku memanggilmu dengan arti….sayang”
“Oh Tuhan.. aku seakan tak percaya, aku mempunyai rasa cinta tapi masih memanggilnya sahabat.. tapi dia walaupun tak pernah dia ucapkan kata itu, tapi setiap panggilan untukku adalah sayang.
Aku jadi malu sekaligus bahagia..
Malam itu ku katakan aku akan pergi tugas untuk beberapa hari. Aku ingin dia tahu bahwa hidupku kini semakin berarti dengan kehadirannya walau hanya dalam dunia maya.
“oke, I’ll wait for you here”. jawabmu singkat.
ku katakan “ I love U”, seperti biasa kamu akan membalasnya.
“ miss you..Dear..”
Aku ingin berlalu menutup situs jejaring sosialku tapi terasa berat, namamu kulihat masih ada disitu rasanya aku tak ingin meninggalkanmu.
“did you really miss me..beib?  ku tanyakan kepadamu.
“ yes..i really miss you, but you must go.. I’ll be fine ..”
‘oke.. I’ll be back soon... I love you…dear.”
“ miss you..”
Tersenyum, ku tutup jendela obrolanku dengan hati tenang seakan tahu bahwa ada yang menanti kehadiranku saat nanti aku kembali.

Selasa, 08 Mei 2012

My Window Chat.. ~ 1


Namamu menemaniku akhir-akhir ini, saat aku ada dikantor atau saat aku makan siang. Kadang aku bertanya dalam hati seperti apa wajahmu?.

Dari obrolan bersamamu seakan-akan aku menemukan sosok cantik nan lembut, kata-kata yang tersusun rapih dan sopan terasa manis saat aku membacanya, sepertinya kamu wanita yang cukup pintar.
Sayangnya perbedaan waktu yang begitu jauh membuat aku tak bisa terus bersamamu, percakapan seakan begitu singkat. Ada rasa takut untuk mengakui perasaanku bahwa aku telah jatuh cinta pada mu.
Pada sosok cantik diujung dunia maya itu.

Pagi ini seperti biasa begitu masuk kedalam ruang kerjaku aku langsung mengaktifkan komputer pribadiku. Membuka sebuah situs jejaring sosial membaca beberapa status terbaru mengaktifkan jendela obrolanku, berharap ada kamu disitu untuk menemaniku menjalani hari ini.

“kosong..” lirihku begitu ku lihat tak ada tanda-tanda kamu hadir didalamnya.

“Kamu kemana ya? Sedang apa kamu saat ini? mungkin gak ya kalau saat ini pun kamu sedang mengingatku? “  fikirku menerawang jauh.

Ada rasa ingin tahu lebih dalam tentang kamu tapi bagaimana mungkin, kamu tak pernah mau menampilkan atau memberikan foto mu, aku hanya bisa membayangkan dirimu dalam sosok lembut berwajah cantik.

Secangkir kopi menemani ku pagi ini, membawanya kedekat jendela ruang kerja ku menghirupnya beberapa teguk sambil melepas pandangan jauh diantara atap gedung-gedung bertingkat. Aku merasakan kekosongan hatiku.

Telpon berdering menyadarkanku dalam lamunan tentangmu, ku tekan jalur satu dari sekretarisku yang mengingatkan bahwa aku harus menghadiri pertemuan. Ku letakkan perlahan cangkir kopiku dimeja. Melirik sebentar kedalam jendela obrolanku, kamu tetap tak menunjukan keberadaanmu disana. Ku bereskan  kerta kerja yang akan ku bawa dalam pertemuan dan masih berharap setelah pertemuan itu aku akan menemukanmu kembali.

Jam istirahat makan siang…..

“Kenapa fikiranku hanya ada nama kamu ya? Kenapa hidupku jadi berubah semenjak aku berbicara denganmu? Aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu. Apa aku benar-benar telah jatuh cinta sama kamu? Ach.. pertanyaan itu semakin membuatku tak bisa berpaling dari namamu.”

Ngobrol sama teman-teman kerjaku dalam ruang makan yang sejuk, memesan sebuah jus dan sepiring roti isi dengan keju didalamnya. Dari membicarakan tentang isi pertemuan tadi hingga akhirnya berujung pada kisah teman hidup mereka masing-masing. Aku hanya diam mendengarkan.
Aku tahu saat itu hatiku ingin berbicara denganmu. Aku tahu hatiku ingin kamu ada disetiap aktifitasku, tapi bagaimana? Aku tak bisa menunjukkanmu. Aku tak bisa memperlihatkan dirimu dan aku hanya bisa merasakan kalau kamu telah memenuhi setiap ruang hatiku.
                                                    ~ o 0 o ~

Kembali kebelakang meja kerjaku fokus dengan apa yang aku kerjakan hari ini. membuka kembali komputer pribadiku dan mulai mengerjakan sesuatu. Iseng ku buka lagi situs jejaring sosial membaca beberapa status terbaru teman-teman dunia mayaku. Tersenyum sendiri lalu menuliskan beberapa komentar didalamnya hingga mataku tertuju pada satu status…dari kamu.
“ When love comes suddenly ..  sometimes we are afraid to admit it's feeling.
But we cannot deny.
His name is always remembered ..
His face always imagined.  And
His sweet words to make sense of happiness ...
a question may arise in your hearts….
"Do I loved him ?."
Only hearts can answer that ...
Hatiku bergetar … ku tekan tanda suka pada statusnya dalam hati aku bertanya. “Apa mungkin perasaan itu yang kamu rasakan?. Ada rasa bahagia saat membaca status itu dan sepertinya kita  punya rasa yang sama.
Ku tulis beberapa kata untuk menyapamu dalam kolom pesan, berharap kamu mau membuka jendela obrolanmu. Aku tersenyum
“ hi.. how are you..?
“ hi.. I’m fine thanks..? n you?
“fine thanks.. what are you doing now?”
“just.. talk with you.. n read some news on my PC.?
“I miss you..”  aku menulis rasaku.
Tak ada jawaban, ini membuatku penasaran..
“hi…. Are you there..?
Sepi….  Jendela obrolan masih menampilkan namanya, tapi  dia tidak membalas obrolanku.
“halloo..!!” ku tulis lagi memastikan apa dia masih disana.
“ hi.. I’m still here.. sorry.”
“are you busy..?
“no. but I’ve to go now.. sorry, see you tomorrow..”
Lalu namanya hilang dari jendela obrolanku. Aku tertegun, rasanya masih  ingin berlama-lama dengannya hari ini. Ada rasa kecewa dan marah tapi untuk siapa? 
Ku tutup situs jejaring sosialku, tak ingin berada lama-lama jika kamu tak ada disitu. Melanjutkan kembali aktifitasku mencoba untuk tak memikirkan dirimu saat itu hingga tak terasa hari mulai beranjak petang.
Ku matikan komputer pribadiku. Meraih kunci mobil yang tergeletak dekat telpon lalu beranjak pergi meninggalkan ruang kerjaku. hatiku sepertinya jadi merasa bersalah. Kenapa ya aku tak bisa menahan diriku hingga kata kangen keluar begitu saja dari fikiranku?. Lirih ku sebut namanya..
“ maafkan Aku….”
 

Kamis, 26 April 2012

Mentari penghangat Hati.


Aku menangis ditengah sepinya malam, tak menyesali apa yang telah terjadi tapi belajar menerima apa yang baru saja aku ketahui.

Pagi itu aku kembali menuju sebuah RS besar di Jakarta. Memenuhi  janji dengan seorang dokter spesialis, mengikuti semua apa yang di instruksikannya. Bertahan dengan keyakinan dan doa untuk sebuah kebaikan.
 2 minggu sudah ku kejar semua jadwal untuk menyelesaikan pengobatan itu, berharap untuk cepat kembali kerumah mungilku di pulau Borneo.
Tak terhitung lagi jumlah uang yang harus ku keluarkan harapanku hanya satu, aku ingin kepastian dan memberikan yang terbaik untuk malaikat kecilku.

Membujuknya untuk bangun pagi-pagi, berlomba mengejar waktu dalam padat nya kota Jakarta. Sungguh sesuatu yang tak mungkin aku lupakan. Menggendong dan menyusuri bangunan putih yang besar menaiki beberapa anak tangga hingga tiba disebuah klinik tumbuh kembang,
3 hari yang lalu dokter menyuruhku membawa kembali malaikat kecilku untuk menjalani serangkaian test,  tak ada yang bisa ku lakukan selain mengikuti semua petunjuk dokter.

Seorang suster memintaku menebus sebuah obat, kemudian memberiku petunjuk bagaimana memberikan obat itu. Rasanya tak ingin memberinya obat ini kalau efeknya ternyata untuk membuatnya tak sadarkan diri, tapi ini harus ku lakukan, beberapa menit kemudian malaikat kecilku terlihat mulai tak sadarkan diri, ku gendong dia dan ku baringkan ditempat tidur beralaskan seprai putih bersih. Ku perhatikan seorang perawat mengoleskan semacam gel kebagian-bagian tertentu dikepalanya perawat satunya lagi memperhatikan alat yang terdengar mengeluarkan suara beep..beep..beep.. alat itu merekam aktifitas  yang ada dikepala malaikat kecilku. Aku ingin menangis melihat malaikat kecilku dengan kabel-kabel yang menempel dikepalanya. Detak jantungku berbegup kencang tapi aku bisa apa? aku hanya bisa pasrah dengan semua itu. Ku tenangkan diriku sambil memperhatikan semua gerak gerik suster yang merawat  malaikat kecil ku.

“maafkan mama sayang, ini semua untuk kebaikan kamu” . Begitu batinku menguatkan.

Beberapa menit kemudian perawat itu mulai melepaskan satu per satu kabel yang menempel, membersihkan gel yang masih tersisa dan mengangguk pelan kearahku, aku  mengerti maksudnya. Ku gendong malaikat kecilku memeluknya dengan erat. Ku sadarkan dia dengan kecupan sayang, perlahan matanya mulai terbuka aku tersenyum membelai rambutnya yang masih sedikit agak basah terkena gel. Ku peluk lagi dan ku kecup lagi keningnya.

" Betapa aku sangat mencintaimu malaikat kecilku".  kataku dalam hati.

Masih dalam gendongan malaikat kecilku memeluk erat tubuhku dengan keadaannya yang masih lemah.

“ kita pulang sayang, kita pulang. kamu  pasti lelah seharian  ini.”  bisikku lembut.

 Ku tinggalkan bangunan megah berwarna putih itu menaiki sebuah taksi biru menuju hotel tempatku menginap. Malaikat kecilku berlindung dalam pelukan hangatku kemudian terlelap kembali  dengan senyuman manisnya.

                                                      ~ o 0 o ~


Dokter mempersilahkanku duduk setelah test itu dilakukan. Jantungku sedikit  berdebar. Menunggu  apa hasil dari test 3 hari yang lalu itu.

“Bagaimana bu.. sehat?” tanya dokter.

“baik dokter..cuma agak tegang sedikit “. jawabku pelan berusaha menghilangkan kegugupanku.

“adek..bagaimana?” tanya dokter lagi sambil memegang lembut tangan malaikat kecilku.

“ baik dokter.” Jawabku mewakili malaikat kecilku yang asik memainkan sebuah mobil mainan dan botol susunya.

“baiklah..” dokter itu melanjutkan.

 Aku sedikit tegang menunggu dokter berbicara.

“berdasarkan dari hasil  serangkaian test kemarin saya bisa menyimpulkan bahwa anak ibu mengalami gangguan dipendengarannya, semua struktur telinga, gendang telinganya bagus hanya saja sepertinya ada gangguan dibagian syaraf telinganya hingga menyebabkan dia tidak dapat mendengar dengan jelas, maaf ibu ”. dokter itu menjelaskan.

Aku terdiam memandangi malaikat kecilku yang masih asik dengan mainan dan botol susunya. Sepertinya dia belum menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Apa yang harus saya lakukan dokter ?“  tanyaku kemudian.

“ibu tak perlu khawatir  karena anak ibu masih dalam masa berkembang dan bisa terbantu dengan pemakaian alat bantu dengar, hanya saja maaf ibu.. untuk saat ini dia tidak bisa bersekolah di sekolah umum karena nanti  akan membuatnya kesulitan, yang harus ibu lakukan sejak dini adalah mengikuti terapi dan menstimulasinya dengan suara-suara yang langsung diterima lewat pendengarannya  tak ada salahnya jika mendengarkan musik lewat headset, itu akan membantu syarafnya bekerja.” jelas dokter  yang sedikit menenangkan ku.

Aku hanya bisa mengangguk mendengarkan  semua penjelasannya, menanyakan apa saja yang dapat ku lakukan untuk membantu malaikat kecilku ini. Sesekali ku pandangi tubuh mungilnya, batinku menangis. Tapi aku bisa apa?

“baik lah kalau begitu, semuanya sudah selesai ada lagi yang ingin ditanyakan ibu..?”. tanya dokter.

“ Tidak dokter, saya mengerti..terimakasih atas bantuan dan penjelasannya dok. ini membuat saya sedikit agak tenang menerimanya". jawabku.

 ku jabat tangannya kemudian meraih tubuh mungil malaikat kecilku. Dokter menjabat tangan mungil itu dan mengusapnya lembut. Malaikat kecilku hanya memandangi dengan wajahnya yang polos dan dengan langkah kecilnya mengiringiku meninggalkan ruangan dokter yang sejuk ber AC.

                                                     ~ o 0 o ~
Malam itu terasa begitu sunyi, kubayangkan seperti inilah mungkin yang dirasakan malaikat kecilku. Dalam keheningan hidupnya.
Hp ku berdering, ku lihat layarnya sebentar memastikan orang yang ku tunggu yang menghubungiku saat ini.

“ selamat malam sayang.. bagaimana testnya hari ini ?” suara yang begitu akrab ditelingaku terdengar disana.

“ met malam cinta..” balasku berusaha menahan rasa dihatiku.

“bagaimana keadaanmu juga malaikat kecil kita? Apa dia baik-baik saja?. tanya suara itu lagi.

Aku terdiam menyusun kata-kataku rasanya tak ingin memberitahunya, tak ingin dia merasakan hal yang sama ini, tak bisa ku bayangkan perasaannya jika tahu hal yang sebenarnya. Tapi semua harus dibicarakan.

“ halo.. kamu masih disitu kan sayang?” suara itu menyadarkan ku.

“oh iya.. suaranya agak kurang jelas disini, mungkin aku harus pindah keluar ruangan.”  alih ku. Padahal aku sedang bingung bagaimana menyampaikan ini semua padanya.

“oke..oke mungkin sinyal dalam kamar ini yang jelek, tunggu sebentar  aku akan ke balkon”.  terdengar hening, kemudian.

“halo..halo.bagaimana sekarang?”  suara itu terdengar lagi.

“iya. bagus?” jawabku sekenanya.

“oke. Mmm..bagaimana tadi testnya berjalan lancar? apa hasilnya?” tanyanya kembali.

HHhh..ku tarik nafas panjang sebelum menjawabnya.

“ alhamdulillah semua berjalan lancar, dari rumah sampai RS. Dokternya, testnya dan sampai rumah lagi, hanya saja cinta…” kataku menghentikan kata-kataku.

“ Ada apa? Apa kata dokter? Bagaimana hasil testnya? Ada apa dengan malaikat kecil kita?”. Suara itu terdengar penasaran dan memberiku banyak pertanyaan.

“semua berjalan cukup lancar, hanya saja hasilnya…, maaf cinta.. sepertinya dugaanku benar, malaikat kecil kita mengalami gangguan dipendengarannya.” kataku tersendat  airmata tak kuasa ku bendung, rasanya aku ingin berada dalam pelukannya saat ini.
Suara itu tak terdengar, hanya helaan nafas panjang yang ku tangkap sayup-sayup.

“halo..cinta, kamu mendengarkanku.?” tanyaku ketika suara itu sepertinya menghilang.

“ iya…aku disini sayang”.  Jawab suara itu pelan.

“ Aku minta maaf cinta, aku benar-benar minta maaf  mungkin semua ini salahku, aku tak bisa merawatnya dengan benar..” Isak ku menyalahkan diriku sendiri.

“tidak.. kamu tak perlu minta maaf sayang, aku tahu apa yang sudah kamu lakukan untuk malaikat- malaikat kecil kita, aku tahu diri mu, ini semua sudah takdir dari Yang Maha Menguasai Segalanya , kita hadapi saja semua ini bersama tak ada yang harus disalahkan “. Suara itu berusaha menenangkan ku.

“ saat ini yang ke butuhkan hanya semangat darimu, rasanya aku ingin berlari kedalam pelukamu cinta, rasanya aku tak kuat menahan rasa ini sendiri..”  tangisku tak bisa ku tahan lagi.

“ssstt…sayang, sudahlah jangan menangis, hapus air matamu, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Sekarang istirahat lah, aku tahu kamu pasti capek beberapa hari ini, semuanya kini sudah jelas. Ingat lah satu hal.. aku sangat sayang padamu juga  pada buah hati kita,  yang harus kita lakukan sekarang adalah memberikan yang terbaik untuknya semampu kita. Tidurlah sayangku.. aku akan memelukmu dari sini dengan segala rasa sayang dan cintaku.” suara itu terdengar bergetar namun bisa membuatku sedikit tenang.

“baiklah.. aku akan mencoba untuk tidur malam ini, terimakasih telah begitu mengerti rasaku cinta.. bantu aku dalam doa malammu, bantu aku dengan kekuatan cinta kamu..aku membutuhkannya malam ini, aku menyayangimu cinta.”  dengan masih terisak ku hapus  airmataku.

“ iya aku tahu..istirahatlah sayangku.  I love you..”  ucap suara itu lembut.

“ I love you too..” 
Lalu semuanya kembali sunyi.. sunyi dikeramaian kota Jakarta yang tak pernah tidur. hatiku masih menangis, aku teringat ucapan belahan hatiku diseberang pulau sana, mengingatkanku pada Sang Pemilik Jiwa. ku basuh tubuhku mensucikan diri dengan wudhu, menghamparkan sajadah disudut ruangan. melantunkan ayat-ayat suci yang  cukup terasa mengetarkan jiwaku saat itu.
Ku pandangi malaikat kecilku yang telah tertidur pulas dengan mimpinya. botol susu yang kosong tergeletak begitu saja di sebelah bantalnya. membayangkan wajahnya yang mungil, membayangkan hari-hari yang kelak dilaluinya dalam kesunyian, dan aku tak kuasa lagi menahan airmataku.

Bersimpuh aku dalam do'a malam itu.

"ya Rabb... Ampunilah dosa dan kesalahan hamba, tolonglah hamba ya Rabb.. berikan hamba kekuatan, berikan hamba cukup kesabaran menerima ini semua dengan ikhlas. hamba yakin Engkau akan memberikan yang terbaik untuknya, lindungilah buah hati hamba, jagalah dia ya Rabb, lindungilah dia karena hanya Engkau lah sebaik-baiknya Pelindung............."

Ku tumpahkan segala sedih dan tangisku malam itu menenggelamkan diriku dalam doa yang panjang..untuk malaikat kecilku. 
mengingat kembali tubuh mungilnya, wajahnya yang lucu, tangisnya, gerak geriknya yang membuat ceria suasana dan senyumnya...senyumnya seperti matahari yang menghangatkan hati. seperti arti namanya.

                                " Mentari Penghangat Hati"

                                                                                          ~ With Love ~ 
                                                                                                  2012

Senin, 16 April 2012

lagu cinta itu bukan untukmu.. ~ 2

Rupanya kamu belum bisa melupakan faya sahabatku, aku jadi kasihan sama kamu tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa. Faya lebih memilih orang lain daripada kamu.
Banyak pertimbangan yang Faya utarakan ke aku, dan aku gak mungkin mengutarakan semua itu sama kamu  walaupun kamu teman baik ku. Aku juga tak ingin kamu tahu bahwa sebenarnya aku ada saat kamu datang kerumah faya.

Ku lihat raut wajah kecewa tersembunyi saat Faya bicara padamu waktu itu, aku masih melihat senyummu yang harus kamu paksakan untuk menutupi rasa kecewamu. Aku bisa merasakan kecewamu saat itu. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin juga bagiku untuk membujuk Faya agar menerimamu, aku sahabat  Faya, aku tahu hati Faya untuk siapa?!.

Rupanya rasa itu tak lekang oleh waktu. Walaupun masa telah berlalu kamu masih menyimpan  rasa hati untuk Faya. Tapi kenapa dalam rentang waktu itu kamu seolah mendekatiku dalam cara yang berbeda? Aku bisa rasakan ada rasa lain disana, entahlah semakin lama kamu sepertinya memberikan harapan untuk menumbuhkan rasa lain dihatiku. Aku tak bisa pungkiri  ada rasa lain juga yang hadir dalam hati saat itu.
Tapi saat rasa itu mulai tumbuh kamu seolah menjauh, ku yakinkan diriku bahwa aku salah mengartikan perasaanku, jadi ku tepis rasa itu tetap seperti rasa sebelumnya terhadapmu. Kamu teman baikku tak mungkin aku mengharapkan sesuatu yang aku sendiri gak yakin karenanya. Dan kita pun berpisah untuk waktu yang lama.

Malam itu dipenghujung tahun tanpa di duga kamu datang diacara ulang tahun temanku yang juga temanmu. Kedewasaan terlihat dari penampilanmu. Aku terkejut ketika kamu menyapaku dengan senyum paling manis yang pernah aku temui selama aku jadi temanmu. 

“ kamu…??” kataku tak percaya.

“ iya ini aku..kaget ya..? aku juga gak sangka bisa ketemu kamu lagi disini .” jawabmu.

“ Aku memang masih tinggal didaerah ini kok”. Kataku menghilangkan keterkejutanku.

“ iya aku tadi sempat tanya, ternyata kamu masih disini padahal saat beberapa waktu setelah perpisahan sekolah itu aku sempat mencarimu, katanya kamu kost didekat kampus dan aku gak tahu kamu kuliah dimana?”. Panjang kamu menjelaskan.

Aku mengernyitkan alisku, bingung dengan perkataannya.
“Kamu cari aku..?” tanyaku memastikan yang ku dengar.

“ iya..aku mencari mu, sepertinya kamu menghilang.”  Suaramu terdengar pelan.

“ untuk apa kamu mencariku?”. Masih bingung ku tanyakan itu.

“ Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ?” ujarmu lagi.

Ach… sepertinya aku masih saja jadi tempat curahan hatimu, entah kamu sadar atau tidak  kamu membuka kembali rasa yang pernah kau titipkan dulu , semua itu kini membayang dalam ingatanku. 
“ Apa yang mau kamu tanyakan? Apa masih seputar rasa untuk Faya?  hey..bangun!!. kita sudah berada dalam masa yang berbeda sekarang".  kata ku mengingatkan.

“ oh..ya Faya, bagaimana kabarnya sekarang?”  kamu pura-pura menanyakan.

Aku baru saja mau menjawab ketika kamu tiba2 melanjutkan bicaramu.
“ bukan.. , ini bukan tentang Faya tapi tentang perasaan yang ada sama kamu dulu ?”.

Deg..!! degup jantungku sedikit tersentak. Apa maksudnya ini? ujarku dalam hati, kenapa tiba-tiba saja kamu menanyakan hal itu, apa kamu gak sadar apa yang kamu bicarakan? kamu benar-benar membuatku bingung.

“ maksudmu?”. tanyaku balik.

“  Seorang teman pernah bercerita tentang perasaanmu sama aku setelah sekian lama kita gak pernah ketemu, tadinya aku gak percaya karena ku fikir kita gak akan terlibat dengan rasa yang sama. Dulu aku harus menghindar darimu karena aku nggak ingin pertemanan kita rusak hanya karena rasa yang mulai ada dalam hatiku. Aku takut kamu marah jika tahu rasa lain telah tumbuh, aku tak berani berterus terang, aku tak ingin kamu tahu rasa itu. Aku hanya ingin memastikan apakah yang aku dengar itu benar?”. Panjang kamu ceritakan semua masa lalu itu.

Aku jadi bingung, ingin ku akui itu tapi aku gak sanggup untuk berkata. Ingin ku dustai itu tapi hatiku memang pernah tersentuh oleh rasa. Kalau saja dulu kita mau jujur dengan perasaan kita, mungkin bingung ini tak akan menjadikanku diam seribu bahasa. Yang ku lakukan hanya mendengarkan perkataanmu lagi.

“ kalau saja aku tahu lebih dulu perasaanmu, mungkin aku tak memaksamu untuk bicara dengan Faya, tapi kamu hebat..kamu sembunyikan semua itu bahkan sama sahabatmu sendiri, aku tak bisa bayangkan perasaanmu saat meminta sahabatmu untuk mau menemui ku padahal kamu mengorbankan perasaanmu”.

Aku masih terdiam mendengar semua curahan hati kamu yang entah kenapa baru kamu sampaikan setelah sekian lama. Apa yang harus aku lakukan dengan semua cerita itu. Apa yang harus ku katakan untuk menjelaskan semuanya kalau ternyata itu benar adanya. Sementara saat ini di jari manisku telah melingkar cincin indah pengikat hati.

“aku hanya ingin bilang..aku minta maaf telah menjauh dari kamu saat itu, aku gak bermaksud, aku hanya ingin menghindari perasaan yang lama-lama singgah dihatiku untukmu, aku gak ingin kamu marah sama aku,tapi aku juga gak mau menipu perasaanku kalau aku… suka kamu”.  Lirihmu pelan tertunduk.

“ aku bingung mau ngomong apa?” kataku singkat.

“ katakan saja kalau semua itu benar..katakan saja kalau ternyata kita memang punya rasa yang sama, dengan begitu aku bisa menebus rasa bersalahku padamu, aku ingin menjadikanmu lebih dari temanku, aku ingin kamu jadi teman dekatku". 

kata-katamu  membuatku jadi serba salah. Akhirnya ku beranikan diri untuk bicara denganmu.

“ sudah lah, semuanya sudah berlalu dan aku tak ingin melihatmu kecewa dengan semua cerita itu Aku tak ingin menyakiti rasa yang ada padamu saat ini, tapi kamu seharusnya mengerti perasaan itu tak bisa dipermainkan begitu saja. Dulu kamu datang padaku memintaku untuk membantumu bicara dengan sahabatku tentang perasaanmu, setelah kamu tahu jawabannya entah sadar atau tidak kamu memberikan harapan kepadaku, aku tahu aku menyukaimu sebelum kamu menyadarinya, tapi ku tepis semua itu. Aku menghormatimu sebagai teman baikku. Lalu kemudian kamu menjauh hingga perpisahan itu.
Sekarang kamu datang kepadaku menanyakan perasaanku kepadamu dan memintaku jadi teman dekatmu, apa kamu sadar dengan apa yang kamu goreskan saat ini?, kamu membuka luka yang telah lama aku pendam, kamu merasa seolah-olah aku telah kecewa karena kehilanganmu. Bukan itu, bukan itu yang harus kamu ketahui sekarang ini ?“. Kata-kataku meluncur begitu saja.
 
Kamu memandangku dengan pandangan orang yang merasa bersalah, membuatku perlu menjelaskan dan menyelesaikan semua perasaan ini.

“ Aku terlalu hanyut dengan perasaanku hingga tak sadar kalau kamu  adalah temanku, aku melakukan semua itu dulu karena aku ingin membantumu mengungkapkan rasa, namun sepertinya rasa itu memang tak bisa kamu lupakan. Aku memaklumi itu, hingga akhirnya ku tepis semua rasa tentang mu, menjadikanmu tetap sebagai temanku..Aku memaafkan mu atas rasa yang pernah kita miliki bersama. Aku tak ingin melihatmu kecewa lagi tapi maaf….kamu terlambat. Kamu hanya ada disudut kecil ruang hati. Aku tak ingin mengusik lagi keberadaanmu disana, karena kini  hati dan diri ku telah dimiliki oleh orang lain.” 

Ku pandangi dirimu yang diam menatapku. Aku tahu aku telah mengecewakannya. Tapi ini harus berakhir, masa lalu itu harus berlalu dan pergi. Aku tak ingin keberadaannya saat ini mengusik kebahagiaan yang telah aku dapati.

Tersadar kalau saat itu kita dalam suasana ulang tahun, aku mulai berbaur dengan yang lainnya. Ku lihat kamu maju ke depan memetik gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
".......lagu tentang cinta".

Terbayang kembali saat pasir pantai menyentuh kakiku waktu itu, angin malam menyapa kulitku membuatku merasa kedinginan, kamu memberikan jaketmu, menjagaku seolah takut aku sakit karena dinginnya malam. Kita bersama menyanyikan lagu tentang cinta itu  lagu cinta untukmu walau ku tahu saat itu lagu cinta itu bukan untukku.

Tapi saat ini ketika lagu tentang cinta itu mengalun kembali bisa ku pastikan.
 lagu cinta ini bukan lagi untukmu.....

                                                                       ~ s e l e s a i ~

Sabtu, 14 April 2012

lagu cinta itu bukan untukmu... ~1

Aku duduk sendirian diteras taman sekolah dibawah pohon rindang sambil membaca sebuah buku pelajaran saat kamu datang menghampiri. 
kalau saja kamu tahu rasa dalam hatiku, mungkin kamu tak akan menanyakan hal itu lagi padaku tapi aku temanmu..tempat kamu berbagi cerita. 

“ Bagaimana...?” katamu saat itu.

“ Ya kamu bilang aja sendiri nanti kamu akan tahu jawabanya ”. Kataku pelan
.
“ Tapi gimana caranya kamukan sahabatnya?” Tanya kamu lagi.

“ Aku memang sahabatnya tapi inikan perasaanmu bukan perasaanku?!”. Jelasku.

“ Tapi kamu mau bantu aku kan buat ngomong sama dia?”. Pintanya. Aku menarik nafas.

“ Oke.. nanti aku ngomong sama dia”. Jawabku sambil berdiri.

“ Terimakasih ya..” katamu dengan senyum mengembang.

Bel masuk sayup-sayup terdengar ku bereskan buku ku lalu melangkah pergi menuju kelas dan kamu berlari kecil meninggalkanku.

Bingung bagaimana memulainya, aku tahu sahabatku sedang mencoba dekat dengan seseorang dan aku bisa merasakan kegembiraannya tapi aku juga nggak mau buat temanku kecewa. 
Jadi siang itu aku memberanikan diri untuk mengajak sahabatku bicara dikantin sekolah saat istirahat.

“ Fay..kamu tau cowok manis dikelas sebelah?” tanyaku.

“ Mm…ya kenapa?” Jawab sahabatku.

“ Siang nanti dia mau main kerumahmu..boleh?” . tanyaku lagi sambil menyeruput sebotol minuman ringan

Sahabatku tak langsung menjawab dia kelihatan berfikir sejenak aku mengerti,
jadi ku tunggu saja sampai dia mau buka suara.

“  Bagaimana Fay…” tanyaku lagi.

“ Tapi kamu ikut kerumahku juga kan?” katanya membuatku terkejut. Bagaimana tidak aku tahu maksud temanku datang kerumah sahabatku. Kalau temanku tahu tentu itu akan membuatnya malu.

“ Ya nggak enak lah fay “ elak ku.

“ Temani aku lah.. aku gak mau menemuinya sendirian”. Rayu faya.

“ Tapi fay…” lanjutku.

“ Kamu kerumahku sebelum dia datang, jadi dia gak tau kamu ada disitu..?” pinta faya sambil memegang tanganku. “ Ayo lah..kamu kan sahabatku” . mohon faya.

“ Oke deh…” lanjutku menyerah.

Faya tersenyum padaku kemudian kami kembali menikmati jam istirahat dikantin yang ramai. Aku menitipkan sepucuk surat lewat teman sekelas kamu, aku tahu kamu pasti sedang menunggu kabar dariku dan semoga saja kabar ini akan membuatmu senang.

Jadi saat pulang sekolah itu aku langsung menghubungi rumah, titip pesan sama orang rumah kalo aku terlambat pulang sekolah kalau mama pulang dari belanja nanti  mama tak akan mencariku.

Faya langsung mengajakku masuk ke kamarnya saat tiba dirumah, membuka lemari pakaian lalu mengambil beberapa helai kaos dan menyerahkan padaku untuk memilih mana yang akan aku pakai buat ganti baju seragamku. Aiihh..Faya. aku jadi malu sendiri.

“ Aku kedapur ya. kamu ganti baju aja dulu”. ujar Faya lalu berlalu dan menutup pintu, membiarkanku dikamarnya sendirian.

Aku keluar kamar menuju ruang tengah biasanya aku dan faya duduk disitu sambil mengerjakan tugas sekolah bersama, faya sudah ganti bajunya dengan t-shirt berwarna pink dan jeans biru ¾. terlihat santai. Segelas es jeruk disodorkan kearahku dia sendiri meminum segelas es jeruknya sampai habis. Aku tertawa melihatnya, gak lama si mbak datang membawa 2 piring nasi goreng meletakkannya dimeja makan kemudian kembali lagi ke dapur. 

“  Makan dulu yuk…nanti kita terusin lagi ngobrolnya “. Ajak faya seraya menarik tanganku.
Nasi goreng si mbak memang enak, aku dan faya melahapnya sampai habis, segelas air putih menyelesaikan makan siangku

Aku dan Faya terlibat dalam obrolan yang sedikit agak serius, ku terangkan maksud kedatangan cowok manis itu mencoba menanyakan langsung bagaimana pendapat Faya tentang itu, Faya kelihatannya agak ragu dan aku memakluminya karena aku tahu Faya juga lagi suka sama seseorang, hanya saja cowok itu belum menyatakan sukanya sama Faya.
Yang ku tahu belakangan ini temanku lagi pendekatan sama Faya, aku lihat sikap Faya yang biasa saja seperti biasanya baik sama setiap orang.

“ Kelihatannya sih baik..tapi bagaimana ya?” bimbang Faya.

“ Yang punya keputusan kan kamu Fay, aku sih cuma menyampaikan saja.” Jelasku.

Faya tersenyum kearahku kemudian menempelkan jari telunjuknya ke bibir sambil menunjuk pintu depan yang tiba-tiba saja berbunyi. Aku tahu maksud Faya segera saja aku diam menahan suaraku.

Si mbak membukakan pintu menyuruh tamu itu menunggu dan mempersilahkannya duduk diteras depan rumah kemudian meninggalkannya. Faya yang sudah tahu ada tamu untuknya mengangguk saat si mbak memberitahu, Faya mengajakku keruang tamu, mengintip siapa yang datang dari balik tirai tebal di jendela. Aku mau berbalik keruang tengah ketika tiba-tiba tangan Faya menahanku dan berbisik agar aku tak meninggalkannya sendiri. Faya memintaku untuk tetap diruang tamu  sementara dia pergi menuju teras depan menemui sang tamu. Faya mengacungkan tinjunya dibalik pintu sambil tersenyum kearahku, aku mengangguk sambil tertawa tertahan.