Total Tayangan Halaman

Rabu, 04 April 2012

Kerinduan. ~ 4.

Seminggu telah berlalu setelah kepulanganmu dari rumah sakit itu.
Minggu ini kembali teman-teman mengajakku untuk menjengukmu.
kerumah mu..

Rumah besar bercat putih bersih dengan halaman yang luas dan taman yang terawat rapih.
Ibumu membuka pintu menjawab salam yang kami berikan lalu mepersilahkan masuk. Kamar itu tak terlalu besar tapi cukup nyaman, tubuhmu terbaring lemah dikasur empuk berwarna biru indah senada dengan warna kamar dan tirai dijendela bunga segar seperti biasa ada diatas meja kecil disudut dekat jendela, wangi pengharum ruangan menambah kesan bersih dan segar. Ibumu masuk mendahului, mengusap wajahmu lembut dan berkata setengah berbisik.

“ Bangun sayang… teman-temanmu datang “. Tangannya membelai rambut hitammu.

Ibumu mengisyaratkan agar kami masuk. Aku menghampiri tempat tidurmu, berdiri didepan dekat kakimu yang terselimuti kain lembut. sementara yang nya duduk disamping kiri dan kanan tempat tidurmu.

“ Sayang… ini teman-temanmu ada disini, bangun nak.” ucap ibumu lagi.

Perlahan kamu membuka matamu, tak bersuara tapi mengangguk perlahan.

Setelah yakin kamu bangun ibumu beranjak pergi meninggalkanmu melewatiku dan perlahan menyentuh tanganku lembut, seakan mengajakku untuk berbicara sejenak dan aku mengikutinya sampai diruang makan, kemudian dia memintaku untuk duduk.
 
“ Ada apa bunda…?” tanyaku. Hati ku sedikit agak bergetar.

“ Nak… sudah beberapa hari ini dia diam saja dan tertidur, bunda takut..!” ucap ibumu menunduk sambil menahan perasaannya dan ku lihat  ibumu menitikkan airmata. Aku terharu, aku tak bisa berkata.

Aku meraih tangannya mengusap punggung tangannya kemudian memeluknya erat hatiku ikut menangis, mataku mulai berair aku tak tahan melihat ibumu menangis. ibumu membiarkan aku memeluknya. Sepertinya dia ingin melepas himpitan rasa yang telah lama dipendamnya.

“ Nak.. bunda ingat almarhum ayah, disaat-saat terakhirnya beliau juga diam dan terus tertidur ”. Lirih ibumu disela isaknya.

Aku tak bisa berkata apa-apa, ku biarkan ibumu menangis dipelukanku.
Sesekali ku usap airmataku, aku tak ingin ibumu melihatku menangis. Aku dan ibumu berada dalam satu rasa.  Perlahan ku lepaskan pelukanku membiarkan ibumu bercerita menumpahkan segala rasanya hingga akhirnya bisa menguasai perasaan dan tenang.

Aku kembali kekamarmu dan ibumu mengikutiku dari belakang  dia telah menghapus airmatanya , menghampiri, membelai rambutmu yang hitam, Dan kamu.....kamu masih saja diam, matamu masih terpejam hanya desah nafasmu yang terdengar. Suasana didalam kamar itu jadi sunyi, tak ada yang bersuara ketika ibumu berkata padamu.
 
“ Sayang….buka matamu nak, lihat siapa yang datang..?” lembut suara itu memanggilmu.

Perlahan kamu membuka lagi matamu, entah kenapa dadaku berdegup menahan detak jantungku. Kakakmu masuk menghampiri dan berdiri tepat disebelah ku.

“ Sayang…. kamu mau minta maaf sama mereka semua..? Tanya ibumu lagi.

Tak tahan mendengar pertanyaan ibumu satu-satu teman wanita meninggalkan ruangan berdiri didepan pintu melihat dirimu sambil menahan tangis.

Dengan tenagamu yang kian lemah kamu berusaha mengangguk. Aku menahan airmataku, aku tak ingin menangis dihadapanmu.

“ Aku dan teman-teman juga minta maaf sama kamu, kami  telah memaafkanmu”. kataku mewakili. Tangan mu terasa dingin saat ku sentuh.

“ Tuh.. lihat sayang mereka semua memaafkanmu, kamu mau memaafkan mereka ?” Tanya ibu mu lembut sambil menahan rasa.

Sekali lagi kamu berusaha untuk mengangguk perlahan.
Ibumu tersenyum, masih membelai lembut rambutmu dan membiarkanmu kembali memejamkan mata.

 Aku memandang wajahmu yang terlihat lebih pucat dari biasanya desahan nafasmu berat, ku pandangi ibumu yang dengan kasih dan sayangnya terus mengusap-usap rambutmu. Perlahan ku lepas tanganmu dan seperti biasanya membisikan sesuatu ditelingamu sebelum akhirnya aku pamit pulang.

“ Bunda, kami pulang dulu..” kataku sambil mencium punggung tangannya.Tersenyum kearah kakakmu kemudian berlalu meninggalkan ruangan berwarna biru itu.

Aku bersimpuh kembali di kesunyian malam, memohon kepada Mu Sang pemilik Jiwa  mencurahkan rasa hatiku, bertanya... 

" kenapa rasa cinta itu tumbuh disaat seperti ini?  semua  tentangmu hadir dibenakku, aku tak kuasa untuk tidak menangis malam ini.

Ku biarkan airmataku membasahi peraduanku, membawa diriku dalam mimpi tentangmu.

                                                                              ~ o0o ~                 

Aku terbangun saat handpone ku bergetar, ku lirik jam didinding kamarku tengah malam. Kuraih Hp ku ada pesan pendek yang masuk disitu,  " dari kakakmu..." desahku. 

....................................................Tubuhku lemas, jantungku berdegup keras ku hempaskan tubuhku terduduk ditempat tidur. Menutup wajahku membiarkan airmata yang baru saja mengering kembali membasahi pipiku.

“ Kamu telah pergi….”  lirih hatiku perih.


Aku menangis dalam diam.
Aku menangis dalam kesendirian ditengah malam sunyi sepi.
Aku kehilangan orang yang baru saja memenuhi rasa dalam hatiku...... dengan rasa cinta, rasa sayang.
Aku kembali menangis membayangkan dirimu yang terbaring lemah tak berdaya, mengingat kembali masa-masa indah yang pernah ada bersamamu, tapi sebuah lagu sedih mengalun sunyi dalam hatiku. Dikeheningan malam ini ku tatap gelap tanpa bintang mencoba menggapai bayangmu, merengkuhmu dalam pelukan. Aku menangis, aku menangis  dalam kerinduanku, aku menangis karena kehilangan dirimu.
 
                                                            ~ o 0 o ~

Rumah bercat putih itu sudah penuh dengan orang-orang yang ingin mengucapkan belasungkawa.  Awan putih menutupi langit membuat redup suasana.
Aku diam membisu duduk diantara teman - temanmu. Sesaat tadi ketika baru datang ibumu memelukku erat, tapi airmata tak lagi membasahi pipinya dia terlihat pasrah, ikhlas menerima kepulanganmu kesisi- Nya.

Aku menemuimu dalam kesedihan yang mendalam, tak ingin rasanya menangis dihadapanmu yang terbujur kaku berselimut kain batik yang indah. Wajahmu pucat, senyummu terlihat menghiasi tidur panjangmu ,aku tak kuasa menahan rasa, dadaku sesak menahan tangis.
Ku pegang tanganmu yang tertutup kain, mengirimkan do’a dan aku tak lagi membisikanmu kata-kata yang sering ku ucapkan ketika kamu masih bisa tersenyum membalasnya.
Lirih perih menahan tangis, ku ucapkan kata-kata itu dihadapanmu.

                                  "Aku Sayang Kamu”. 

Usai sudah perjalananmu didunia ini, menyisakan kenangan indah untukku.
Tanah merah tertutup rapat bunga – bunga bertebaran diatas pusaramu indah seperti kata – kata indah yang sering kau berikan kepadaku saat malam menjelang. 
Aku tak lagi menangis. Saat ini yang ada hanya kerinduan akan kenangan indah bersamamu.

                                        ~ s e l e s a i ~

Kerinduan. ~3

Minggu cerah mewarni bumi yang ku pijak hari ini sinar mentari begitu hangat  menyentuh tubuhku, senam pagi bersama orang-orang terdekat memang menyenangkan walau sebagian lagi dari orang- orang itu tak aku kenal. 
Wajahku basah oleh keringat yang mengucur saat sebotol air mineral masuk dalam kerongkonganku. Hhhh..rasanya menyegarkan. Aku duduk istirahat  bersama teman-teman sambil bercanda, sesekali terdengar suara tawa kami. Untuk sesaat aku melupakanmu, menyimpan kesedihanku, menutupinya dengan tawa dan canda.

Siang ini teman-teman datang menengokmu, kamu masih seperti kemarin lebih banyak diam, sesekali kamu menutup matamu. Satu-satu mereka menyapa dirimu, menanyakanmu,
memberikan doa dan semangat. Aku hanya memperhatikanmu dari sisi meja sudut dekat jendela bersama ibumu. Kakakmu berusaha tegar menjawab setiap pertanyaan dan mereka seakan ikut merasakan penderitaanmu saat itu.

Jam besuk telah habis  kembali satu- satu mereka menyalamimu kemudian keluar ruangan dengan diam menyimpan perasaan disetiap hati mereka, rasa sedih dan iba dengan apa yang kamu derita saat ini, banyak doa yang mereka ucapkan, banyak harapan yang mereka inginkan semua itu hanya untuk kamu.

Aku masih diruanganmu menemani dan menunggu kakak serta  ibumu yang sedang menyelesaikan semua urusan rumah sakit, sore ini kamu akan pulang. 

“ hay…kamu akan pulang hari ini..aku senang, semoga kamu juga senang..” kataku sambil mengusap-usap lembut punggung tanganmu.

Kamu hanya mengangguk pelan memandangku lama seakan mengisyaratkan sesuatu.
Aku tersenyum membuang semua perasaan gundah yang menyelimutiku, tak lama Kakakmu memanggilku pelan jarimu bergerak berusaha memegang tanganku seakan tak ingin aku beranjak dari sisimu.

'"sebentar ya.." kataku pelan melepaskan tanganmu lalu menghampiri kakakmu sesaat aku mengangguk kemudian berlalu meninggalkan ruanganmu menuju ruang apotik menunggu obat-obatanmu, Beberapa menit kemudian kembali keruanganmu.

Semua telah selesai kamu sudah berada dimobil, ku pandangi dirimu yang masih terbaring lemah, mobil yang membawamu pulang perlahan bergerak meninggalkan bangunan putih melewati gerbang dan menghilang ditelan keramaian jalan.
Aku melangkah ketempat parkir menghidupkan kendaraanku dan berlalu.
Melintasi keramaian jalan bersama lampu-lampu kendaraan yang ikut menerangi malam.

Senin, 02 April 2012

Kerinduan. ~2

Cinta itu datang begitu saja ketika aku tak lagi mengharapkan cinta hadir dalam hidupku. Tadinya aku ragu apakah aku bisa membuka hati yang telah sekian lama beku.

Rasa sakit tentang cinta yang lalu membuatku  berfikir lebih hati-hati tentang sebuah rasa cinta, tanpa kusadari hatiku lama-lama mencair dengan kehadiranmu, perhatianmu, kata-kata manismu, tapi aku masih ragu.
-------------------------- o 0 o -------------------------

Tugas kantor begitu menyita waktuku, hingga sore ini aku belum juga beranjak dari depan meja kerjaku, laporan yang seharusnya sudah selesai siang tadi tertunda gara-gara pertemuan dengan klien yang mendadak, sedikit kecewa dengan keadaan, tapi aku harus menyelesaikannya, aku tak ingin tugas ini membebaniku sampai dirumah. Jadi kuselesaikan semua saat itu juga.

Ku lirik jam ditanganku, 5:15. sepertinya aku tak bisa mampir kerumah sakit , membayangkan jalanan yang super macet saat jam pulang kantor seperti ini dan aku baru saja menyelesaikan laporanku, "HHhhh.. aku butuh istirahat..." keluhku.  ada rasa kecewa menyelimuti dan aku memikirkanmu mungkin saja kamu kecewa aku tak bisa menemanimu sore ini. 
 “maaf….ini diluar kuasaku..” lirihku dalam hati.

 Saat aku tiba sore itu ada rasa sesal kenapa aku tak memenuhi janjiku untuk menengokmu kemarin. Aku melihatmu dari balik kaca yang ada dipintu kamarmu, masih ada seseorang berdiri disamping tempat tidurmu  dia adalah ibumu dan kakakmu,entah kenapa kakakmu pun ada disitu. Oksigen yang menutup sebagian wajahmu telah dilepaskan, nafasmu terlihat teratur dan  suara beep..beep..beep dari alat disamping tempat tidurmu pun tak terdengar lagi. Ada tanda tanya dikepalaku, aku menepis prasangka yang mulai muncul.
Ku ketuk ruanganmu, membuka pintunya dan masuk perlahan ketika ibumu tersenyum melihatku.

“assalamualaikum..… “ sapaku.

‘waalaikumusalam…” jawab ibu dan kakakmu bersamaan.

Kamu hanya melambaikan tanganmu pelan diatas tempat tidur.
Mencium tangan ibumu dan memberinya sedikit pelukan kecil lalu menjabat tangan kakakmu dan tersenyum. Aku mendekatimu kemudian duduk disamping tempat tidurmu.

“hey…maaf..kemaren aku harus menyelesaikan tugas kantorku jadi....” kata-kataku terputus.
Kamu mengangguk pelan mendekatkan ujung telunjuk dibibirmu yang pucat. 

“sst..gak apa-apa..aku mengerti “ .katamu hampr tak terdengar.

“oh ya.. salamnya sudah aku sampaikan dan teman-teman akan kemari besok..” lanjutku.

“ ya..terimakasih.” jawabmu lalu memejamkan mata, seperti ada yang kamu rasakan.

Aku tak berani bertanya padamu, melirik wajah ibumu yang menunduk perlahan saat matanya bertatapan denganku. Sore itu tak banyak cerita aku lebih banyak diam memandangi wajah dan tubuhmu yang terlihat begitu lemah.
Aku pamit, mengelus lembut tanganmu dan seperti biasa membisikan sebuah kata,
kamu mengangguk dan tersenyum.
Aku meninggalkanmu dengan tatapan wajahmu yang begitu sayu, menjajari langkah  ibumu yang mengantarku sampai dibalik pintu. Sebelum pergi aku memberanikan diriku bertanya.

“maaf bunda…sebenarnya apa yang terjadi..?”

“….dokter sudah tidak bisa menyembuhkannya sayang..besok bunda akan bawa dia pulang..” jawab bunda sambil menunduk menahan isaknya.

Aku terkejut, ingin menangis tapi tak bisa, yang ku lakukan hanya memeluk erat  ibumu. Melukiskan perasaan yang sama perlahan ku lepaskan pelukanku, mencium punggung tangannya lalu pamit..meninggalkannya sendiri didepan pintu kamarmu.


Malam ini aku tak bisa melukiskan perasaanku, hanya sajadah panjang tempatku bersimpuh memohon kepada Sang pemilik Jiwa..untuk memberikanmu keajaiban atas penyakitmu. airmata ku biarkan jatuh satu satu menenggelamkan diriku dalam doa untukmu.

Minggu, 01 April 2012

Kerinduan. ~1

Macet…macet..macet..huh! padahal aku harus kerumah sakit, mungkin saja kamu sudah menungguku. ‘maaf ya…aku gak bisa tepat waktu kali ini”. Batinku.
Melewati mobil satu persatu akhirnya aku bisa sampai juga didepan bangunan besar berwarna putih. Kuparkirkan kendaraanku  dan buru-buru masuk kedalamnya. 
Wangi pembersih lantai yang menyengat ditambah bau obat rasanya memenuhi disetiap ruangannya. Dan aku harus membiasakan diriku.

Kamu masih terbaring disana,dikamar berwarna hijau tosca lembut, selang infus masih menempel dipergelanganmu, oksigen masih menutup sebagian wajahmu dan alat itu masih saja mendampingi dengan bunyi beep..beep..beep..kabel-kabelnya masih menempel rapih didadamu.
Kamu masih tertidur, kulangkahkan kakiku kesudut dekat jendela mengganti bunga dilemari kecil yang sudah layu, merapihkan selimutmu yang sedikit berantakan.
Dari lantai ini aku bisa melihat jauh pemandangan kota dengan tata letaknya yang rumit. Melepas semua himpitan rasa yang selalu saja hadir setiap kali aku datang kemari menjengukmu. Sejenak aku memandangi wajahmu yang tirus,
“aku takut kehilangan kamu”. lirihku dalam hati.
Dan tak terasa tetes bening telah jatuh membasahi  pipiku. Aku menangis..aku menangis..dan aku menangis dalam kerinduan. Ku hapus air mataku saat ku lihat ada pergerakan dari tubuhmu, kamu terbangun rupanya.

“hay…aku disini..maaf agak terlambat”. Kataku pelan dari sudut kamar dekat jendela. 
 Aku menghampiri, berdiri disebelah tempat tidur. Melihat kamu tersenyum, senyum indah yang dipaksakan. Aku tau betapa kamu mau memberikan senyum itu untukku.

“Bagaimana kamu hari ini”. Tanyaku lembut sambil memegang tanganmu.

Kamu hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan kamu merasa baik hari ini. Aku tersenyum mengetahuinya.

“mau kuteruskan cerita yang kemarin?”. Tanyaku menawarkan buku yang tergeletak dimeja sudut kecil itu.

Kamu menggeleng, dan mengatakan sesuatu, tapi tak ku dengar jadi aku harus mendekatkan wajahku.

“aku hanya ingin memdengar ceritamu hari ini “ katanya pelan.

Entah harus memulai dari mana ceritaku hari ini, aku mulai mengingat apa saja yang aku lakukan hari ini, dimulai dari pagi, kekantor seperti biasanya lalu sebelum pulang aku kemari menjenguk kamu, tapi sepertinya membosankan untuk diceritakan. Baru saja aku mau mulai bicara, seorang suster masuk. Aku tersenyum kearahnya.

“permisi…mas, mbak.. periksa dulu ya”. Katanya mendekati tempat tidur. Menyelipkan thermometer keketiakmu dan memeriksa denyut nadimu. Dan beberapa menit kemudian berlalu.

“oh ya..teman-teman tadi titip salam, mereka mendoakan kamu biar cepat sembuh dan bisa kumpul lagi sama mereka”. Kataku.

“mm….terimakasih, salamku kembali ya..” katamu hampir tak terdengar.

Lalu aku mulai cerita apa saja kegiatanku hari ini sampai aku berada disini saat ini.
 Jam besuk sudah lewat, aku harus mengakhiri ceritaku, rasanya berat meninggalkanmu disini..,tapi  kakakmu datang, aku sedikit lega.

“aku pamit dulu ya…sudah waktunya pulang, besok aku kesini lagi, tunggu aku”. Kataku.
Lalu kudekatkan wajahku, membisikan sesuatu ditelingamu dan kamu pun tersenyum

“trimakasih..” jawabmu sambil mengangguk perlahan, berat melepas tanganku pergi.
Aku memandangmu meyakinkanmu bahwa aku pasti kesini lagi besok.

Sepi…malam sepertinya beranjak perlahan, membawa aku pada keindahan dirimu.
Setiap malam seperti ini menjelang tidur, kamu pasti menitipkan salam rindu mu lewat kata-kata manis di handpone ku, aku senang membacanya, membalas salam rindumu dengan kata-kata indah membawa kita pada mimpi yang sama yaitu ….kebersamaan