Cinta itu
datang begitu saja ketika aku tak lagi mengharapkan cinta hadir dalam hidupku. Tadinya aku ragu
apakah aku bisa membuka hati yang telah sekian lama beku.
Rasa sakit
tentang cinta yang lalu membuatku berfikir lebih hati-hati tentang sebuah
rasa cinta, tanpa kusadari hatiku lama-lama mencair dengan kehadiranmu,
perhatianmu, kata-kata manismu, tapi aku masih ragu.
-------------------------- o 0 o -------------------------
Tugas kantor begitu menyita waktuku, hingga sore
ini aku belum juga beranjak dari depan meja kerjaku, laporan yang seharusnya
sudah selesai siang tadi tertunda gara-gara pertemuan dengan klien yang
mendadak, sedikit kecewa dengan keadaan, tapi aku harus menyelesaikannya, aku
tak ingin tugas ini membebaniku sampai dirumah. Jadi kuselesaikan semua saat
itu juga.
Ku lirik jam ditanganku, 5:15. sepertinya aku
tak bisa mampir kerumah sakit , membayangkan jalanan yang super macet saat jam
pulang kantor seperti ini dan aku baru saja menyelesaikan laporanku,
"HHhhh.. aku butuh istirahat..." keluhku. ada rasa kecewa
menyelimuti dan aku memikirkanmu mungkin saja kamu kecewa aku tak bisa
menemanimu sore ini.
“maaf….ini
diluar kuasaku..” lirihku dalam hati.
Saat
aku tiba sore itu ada rasa sesal kenapa aku tak memenuhi janjiku untuk
menengokmu kemarin. Aku melihatmu dari balik kaca yang ada dipintu kamarmu,
masih ada seseorang berdiri disamping tempat tidurmu dia adalah ibumu dan
kakakmu,entah kenapa kakakmu pun ada disitu. Oksigen yang menutup sebagian
wajahmu telah dilepaskan, nafasmu terlihat teratur dan suara
beep..beep..beep dari alat disamping tempat tidurmu pun tak terdengar lagi. Ada
tanda tanya dikepalaku, aku menepis prasangka yang mulai muncul.
Ku ketuk
ruanganmu, membuka pintunya dan masuk perlahan ketika ibumu tersenyum
melihatku.
“assalamualaikum..… “ sapaku.
‘waalaikumusalam…” jawab ibu dan kakakmu bersamaan.
Kamu hanya
melambaikan tanganmu pelan diatas tempat tidur.
Mencium
tangan ibumu dan memberinya sedikit pelukan kecil lalu menjabat tangan kakakmu
dan tersenyum. Aku mendekatimu kemudian duduk disamping tempat tidurmu.
“hey…maaf..kemaren aku harus menyelesaikan tugas
kantorku jadi....” kata-kataku terputus.
Kamu
mengangguk pelan mendekatkan ujung telunjuk dibibirmu yang pucat.
“sst..gak apa-apa..aku mengerti “ .katamu hampr
tak terdengar.
“oh ya.. salamnya sudah aku sampaikan dan
teman-teman akan kemari besok..” lanjutku.
“ ya..terimakasih.” jawabmu lalu memejamkan
mata, seperti ada yang kamu rasakan.
Aku tak berani bertanya padamu, melirik wajah
ibumu yang menunduk perlahan saat matanya bertatapan denganku. Sore itu tak
banyak cerita aku lebih banyak diam memandangi wajah dan tubuhmu yang terlihat
begitu lemah.
Aku pamit,
mengelus lembut tanganmu dan seperti biasa membisikan sebuah kata,
kamu
mengangguk dan tersenyum.
Aku meninggalkanmu dengan tatapan wajahmu yang
begitu sayu, menjajari langkah ibumu yang mengantarku sampai dibalik
pintu. Sebelum pergi aku memberanikan diriku bertanya.
“maaf bunda…sebenarnya apa yang terjadi..?”
“….dokter sudah tidak bisa menyembuhkannya
sayang..besok bunda akan bawa dia pulang..” jawab bunda sambil menunduk menahan
isaknya.
Aku terkejut, ingin menangis tapi tak bisa, yang
ku lakukan hanya memeluk erat ibumu. Melukiskan perasaan yang sama
perlahan ku lepaskan pelukanku, mencium punggung tangannya lalu
pamit..meninggalkannya sendiri didepan pintu kamarmu.
Malam ini
aku tak bisa melukiskan perasaanku, hanya sajadah panjang tempatku bersimpuh
memohon kepada Sang pemilik Jiwa..untuk memberikanmu keajaiban atas penyakitmu.
airmata ku biarkan jatuh satu satu menenggelamkan diriku dalam doa untukmu.
Total Tayangan Halaman
Senin, 02 April 2012
Minggu, 01 April 2012
Kerinduan. ~1
Macet…macet..macet..huh! padahal aku harus
kerumah sakit, mungkin saja kamu sudah menungguku. ‘maaf ya…aku gak bisa tepat
waktu kali ini”. Batinku.
Melewati mobil satu persatu akhirnya aku bisa sampai juga didepan bangunan besar berwarna putih. Kuparkirkan kendaraanku dan buru-buru masuk kedalamnya.
Wangi pembersih lantai yang menyengat ditambah bau obat rasanya memenuhi disetiap ruangannya. Dan aku harus membiasakan diriku.
Kamu masih terbaring disana,dikamar berwarna hijau tosca lembut, selang infus masih menempel dipergelanganmu, oksigen masih menutup sebagian wajahmu dan alat itu masih saja mendampingi dengan bunyi beep..beep..beep..kabel-kabelnya masih menempel rapih didadamu.
Kamu masih tertidur, kulangkahkan kakiku kesudut dekat jendela mengganti bunga dilemari kecil yang sudah layu, merapihkan selimutmu yang sedikit berantakan.
Dari lantai ini aku bisa melihat jauh pemandangan kota dengan tata letaknya yang rumit. Melepas semua himpitan rasa yang selalu saja hadir setiap kali aku datang kemari menjengukmu. Sejenak aku memandangi wajahmu yang tirus,
“aku takut kehilangan kamu”. lirihku dalam hati.
Dan tak terasa tetes bening telah jatuh membasahi pipiku. Aku menangis..aku menangis..dan aku menangis dalam kerinduan. Ku hapus air mataku saat ku lihat ada pergerakan dari tubuhmu, kamu terbangun rupanya.
“hay…aku disini..maaf agak terlambat”. Kataku pelan dari sudut kamar dekat jendela.
Aku menghampiri, berdiri disebelah tempat tidur. Melihat kamu tersenyum, senyum indah yang dipaksakan. Aku tau betapa kamu mau memberikan senyum itu untukku.
“Bagaimana kamu hari ini”. Tanyaku lembut sambil memegang tanganmu.
Kamu hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan kamu merasa baik hari ini. Aku tersenyum mengetahuinya.
“mau kuteruskan cerita yang kemarin?”. Tanyaku menawarkan buku yang tergeletak dimeja sudut kecil itu.
Kamu menggeleng, dan mengatakan sesuatu, tapi tak ku dengar jadi aku harus mendekatkan wajahku.
“aku hanya ingin memdengar ceritamu hari ini “ katanya pelan.
Entah harus memulai dari mana ceritaku hari ini, aku mulai mengingat apa saja yang aku lakukan hari ini, dimulai dari pagi, kekantor seperti biasanya lalu sebelum pulang aku kemari menjenguk kamu, tapi sepertinya membosankan untuk diceritakan. Baru saja aku mau mulai bicara, seorang suster masuk. Aku tersenyum kearahnya.
“permisi…mas, mbak.. periksa dulu ya”. Katanya mendekati tempat tidur. Menyelipkan thermometer keketiakmu dan memeriksa denyut nadimu. Dan beberapa menit kemudian berlalu.
“oh ya..teman-teman tadi titip salam, mereka mendoakan kamu biar cepat sembuh dan bisa kumpul lagi sama mereka”. Kataku.
“mm….terimakasih, salamku kembali ya..” katamu hampir tak terdengar.
Lalu aku mulai cerita apa saja kegiatanku hari ini sampai aku berada disini saat ini.
Jam besuk sudah lewat, aku harus mengakhiri ceritaku, rasanya berat meninggalkanmu disini..,tapi kakakmu datang, aku sedikit lega.
“aku pamit dulu ya…sudah waktunya pulang, besok aku kesini lagi, tunggu aku”. Kataku.
Lalu kudekatkan wajahku, membisikan sesuatu ditelingamu dan kamu pun tersenyum
“trimakasih..” jawabmu sambil mengangguk perlahan, berat melepas tanganku pergi.
Aku memandangmu meyakinkanmu bahwa aku pasti kesini lagi besok.
Sepi…malam sepertinya beranjak perlahan, membawa aku pada keindahan dirimu.
Setiap malam seperti ini menjelang tidur, kamu pasti menitipkan salam rindu mu lewat kata-kata manis di handpone ku, aku senang membacanya, membalas salam rindumu dengan kata-kata indah membawa kita pada mimpi yang sama yaitu ….kebersamaan
Melewati mobil satu persatu akhirnya aku bisa sampai juga didepan bangunan besar berwarna putih. Kuparkirkan kendaraanku dan buru-buru masuk kedalamnya.
Wangi pembersih lantai yang menyengat ditambah bau obat rasanya memenuhi disetiap ruangannya. Dan aku harus membiasakan diriku.
Kamu masih terbaring disana,dikamar berwarna hijau tosca lembut, selang infus masih menempel dipergelanganmu, oksigen masih menutup sebagian wajahmu dan alat itu masih saja mendampingi dengan bunyi beep..beep..beep..kabel-kabelnya masih menempel rapih didadamu.
Kamu masih tertidur, kulangkahkan kakiku kesudut dekat jendela mengganti bunga dilemari kecil yang sudah layu, merapihkan selimutmu yang sedikit berantakan.
Dari lantai ini aku bisa melihat jauh pemandangan kota dengan tata letaknya yang rumit. Melepas semua himpitan rasa yang selalu saja hadir setiap kali aku datang kemari menjengukmu. Sejenak aku memandangi wajahmu yang tirus,
“aku takut kehilangan kamu”. lirihku dalam hati.
Dan tak terasa tetes bening telah jatuh membasahi pipiku. Aku menangis..aku menangis..dan aku menangis dalam kerinduan. Ku hapus air mataku saat ku lihat ada pergerakan dari tubuhmu, kamu terbangun rupanya.
“hay…aku disini..maaf agak terlambat”. Kataku pelan dari sudut kamar dekat jendela.
Aku menghampiri, berdiri disebelah tempat tidur. Melihat kamu tersenyum, senyum indah yang dipaksakan. Aku tau betapa kamu mau memberikan senyum itu untukku.
“Bagaimana kamu hari ini”. Tanyaku lembut sambil memegang tanganmu.
Kamu hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan kamu merasa baik hari ini. Aku tersenyum mengetahuinya.
“mau kuteruskan cerita yang kemarin?”. Tanyaku menawarkan buku yang tergeletak dimeja sudut kecil itu.
Kamu menggeleng, dan mengatakan sesuatu, tapi tak ku dengar jadi aku harus mendekatkan wajahku.
“aku hanya ingin memdengar ceritamu hari ini “ katanya pelan.
Entah harus memulai dari mana ceritaku hari ini, aku mulai mengingat apa saja yang aku lakukan hari ini, dimulai dari pagi, kekantor seperti biasanya lalu sebelum pulang aku kemari menjenguk kamu, tapi sepertinya membosankan untuk diceritakan. Baru saja aku mau mulai bicara, seorang suster masuk. Aku tersenyum kearahnya.
“permisi…mas, mbak.. periksa dulu ya”. Katanya mendekati tempat tidur. Menyelipkan thermometer keketiakmu dan memeriksa denyut nadimu. Dan beberapa menit kemudian berlalu.
“oh ya..teman-teman tadi titip salam, mereka mendoakan kamu biar cepat sembuh dan bisa kumpul lagi sama mereka”. Kataku.
“mm….terimakasih, salamku kembali ya..” katamu hampir tak terdengar.
Lalu aku mulai cerita apa saja kegiatanku hari ini sampai aku berada disini saat ini.
Jam besuk sudah lewat, aku harus mengakhiri ceritaku, rasanya berat meninggalkanmu disini..,tapi kakakmu datang, aku sedikit lega.
“aku pamit dulu ya…sudah waktunya pulang, besok aku kesini lagi, tunggu aku”. Kataku.
Lalu kudekatkan wajahku, membisikan sesuatu ditelingamu dan kamu pun tersenyum
“trimakasih..” jawabmu sambil mengangguk perlahan, berat melepas tanganku pergi.
Aku memandangmu meyakinkanmu bahwa aku pasti kesini lagi besok.
Sepi…malam sepertinya beranjak perlahan, membawa aku pada keindahan dirimu.
Setiap malam seperti ini menjelang tidur, kamu pasti menitipkan salam rindu mu lewat kata-kata manis di handpone ku, aku senang membacanya, membalas salam rindumu dengan kata-kata indah membawa kita pada mimpi yang sama yaitu ….kebersamaan
Jumat, 30 Maret 2012
Uang receh Rp 50,- ~3
Malam ini
hujan..udara terasa dingin.
Ditemani susu coklat panas sama macaroni panggang.
Gue
duduk setelah beberapa saat tadi gue terima telpon dari sahabat gue.
Ada rasa
kangen ingin ketemu lagi.
Gak
terasa udah 20th, gue ninggalin bagunan putih itu, tinggal jauh
diseberang pulau menemani suami dan jagoan-jagoan gue. liburan panjang kemaren
gue sempet ketemu sama sahabat gue, kita ngobrol bareng sampe nggak sadar kalo
kita sekarang udah sama-sama dewasa, ngetawain tingkah polah kita saat sekolah
dulu, uang receh Rp 50,- itu tinggal kenangan yang gak akan terlupakan.
Uang itu
tak pernah terkumpul hingga cukup banyak, karena tiap kali kita merasa
kehausan, kita gak tahan untuk membongkarnya, maklum aja kita bukan dari
golongan orang berada seperti yang laen, kita tidak bisa meminta lebih uang
saku dari orang tua kita dan kita merasa bersyukur karena nyokap n bokap kita udah mau
nyekolahin kita disekolah yang bagus.
Tapi
dari uang receh itu. Kita jadi punya impian, kita jadi punya cita-cita, punya
rencana apa yang akan kita lakukan nanti, belajar berhemat untuk sesuatu yang
kita inginkan,
belajar bersabar, mau berusaha.
dan kita tidak malu mengakui
kalo kita memang bukan dari kalangan berada.
Mungkin
apa yang gue sama sahabat gue lakukan itu kelihatan bodoh, mengejar mimpi punya
mobil starlet dengan mengumpulkan uang receh yang ditanam dibawah pohon akasia.
Tapi itulah hidup..kita jadi belajar tentang hidup dari uang receh itu.
Baru terasa
sekarang setelah kita udah sama-sama memasuki
masa kedewasaan, kerja ngumpulin uang, berusaha dan sabar hingga
akhirnya mimpi dan cita-cita itu bisa kita raih juga.
Oh ya…
soal cowok tinggi gede itu, gue belom ketemu lagi tapi setelah kejadian diruang
kelas itu akhirnya kita jadi temenan,
dia sepertinya sadar dengan apa yang dia lakukan itu gak benar. Entah dimana
dia sekarang?. Semoga dia jadi orang sukses.
20th,
berlalu. Dan gue bisa cerita sama anak-anak gue tentang uang receh Rp 50,- itu,
mungkin aja cerita ini bisa didengar sama cucu cicit gue nanti. Jadi jangan
takut untuk bermimpi.. kalo kita mau berusaha dan sabar mimpi itu akan jadi
nyata.
thanks guys udah mau dengerin cerita kecil gue ini..
Kamis, 29 Maret 2012
Uang receh Rp 50,- ~2
Pohon akasia
kecil itu masih disana, hujan tadi malam membuat daun-daun hijaunya kelihatan
segar, gue asyik mandanginnya dari tempat biasa gue n sahabat gue duduk dibawah
pohon yang ada ditaman sekolah. Bel istirahat udah 5 menit yang lalu bunyi,
tapi sahabat gue ini belum juga nunjukin batang hidungnya. “ kemana sih dia?” pikir
gue.
Sumpah..!!
hari ini bener-bener melelahkan. PR udah gue kerjain, bener apa salahnya gue gak
tahu deh tuh..yang pasti saat ini yang gue butuhin cuma tidur cos mata gue udah
5 watt berharap gue dapet mimpi indah malam ini, mimpi tentang mobil starlet warna
merah hati yang pengen banget gue miliki.
Ach..gue
gak bisa nunggu, jam istirahatkan 15
menit. Gue berdiri ngelangkahin kaki ke pohon akasia kecil itu, tanah merah ini
agak basah, tapi untuk aja gak becek. Pake bambu kecil gue gali tanah disebelah
batangnya. Bungkusan plastik transparan dengan karet gelang merah pengikatnya
menyembul diantara tanah yang gue gali. Gue tersenyum. Sahabat gue datang
dengan sedikit berlari.
“sory..tadi
gue ada urusan bentar” katanya sambil ngatur nafas.
“gue pikir
lo lupa kemari..?” jawab gue santai.
“
ya..nggak lah gue tadi dapet aduan dari temen-temen cewek katanya cowok
tinggi gede itu cari masalah, ngomong yang gak pantes sama cewek-cewek itu..”
jelasnya.
“ya
udah ntar kita datengin tuh cowok” kata gue lagi sambil ngebuka bungkusan plastik
kecil itu, terus memasukan uang receh gocapan ke dalamnya.
“ nih
uang gue”. Kata sahabat gue sambil
ngasihin uang gocapan yang ada dikantong bajunya.
Gue ikat
lagi bungkusan itu lalu sama-sama menguburnya kembali, ngerapihin tanah
disekitarnya biar gak kelihatan mencurigakan, cos hal ini cuma gue n sahabat
gue aja yang tahu. Sambil menepuk-nepuk tangan ngebersihin tanah yang nempel,
gue n sahabat gue berlalu, gak lupa buat nengok lagi kebelakang ke pohon akasia
itu dan tersenyum.
“yuk..kita
harus hadapin cowok itu?” ajak gue
.
Gue pikir
cewek-cewek itu cuma kesel aja ma nih cowok tinggi gede tapi rupanya dia juga bikin
gue jadi meradang ngedengerin ejekan-ejekannya yang gak pantes didenger.
Sebenarnya
gue gak mau ribut disekolah tapi gue juga kan cewek, cuma penampilan gue aja yang
kayak cowok. Entah gue sendiri gak ngerti kenapa tuh cowok seneng banget
ngomong yang gak etis dikelas gue udah negor dia baik-baik, eh tenyata dia malah
nantangin gue berantem. Eiitss..sory..sory..jack lo pikir gue takut sama lo.? orang betawi bilang “ gue jabanin yang lo
mao..!”.
Alhasil
kelas yang tadinya rapi gue sulap jadi arena tinju, kursi n meja nyingkir dari
tempatnya. Merasa dibelain cewek-cewek manis n cantik itu berteriak-teriak
ngasih semangat gue. Rupanya itu bikin cowok tinggi gede itu merasa kesel. Gue yang
berdiri samping sahabat gue mulai jaga-jaga nih. Percuma dong gue punya sabuk
biru asuhannya pak Jodi guru karate.
Cowok
itu melayangkan pukulannya, gue pikir gue sasaranya jadi gue ngeles dong,
ternyata pikiran gue sama dengan sahabat
gue, tapi dia gak nyingkir karena dia berada cukup jauh dari jangkauan tuh
cowok. Tiba-tiba…
“buukk..” sahabat gue agak oleng kebelakang pipinya
kena pukul, agak meringis dia nahan sakit. Gue jadi kaget plus heran, harusnya
tuh pukulan meleset dong.
Ternyata eh..ternyata
mata tuh cowok gak jelas kayak kita-kita alias juling. Rupanya tujuan
dia mukul sebenarnya ya, ke sahabat gue ini. Gue sebenarnya mau ketawa, tapi
pas pukulan itu sekarang mengarah ke gue,
gue langsung berkelit sambil
ngasih balasan.
“hegg..
tuh cowok terhuyung beberapa langkah kena tendangan gue. Seisi ruangan jadi ribut
gak karuan. Itu cowok bales lagi, gue ngeles lagi, sekarang pukulan gue yang
ngenain wajahnya.
Gue tangkis tangan dia dan dia mundur setelah tendangan gue
yang ke dua ngenain perutnya.
Gue udah siap-siap tungguin lagi apa reaksinya. Ternyata dia
pergi dari kelas sama beberapa temannya dengan muka menahan sakit.
Disudut
gue samperin sahabat gue kelihatanya dia masih menahan sakit, pipinya terlihat
agak merah. Gue bisa ngerasaain apa yang sahabat gue rasain saat itu.
“lo
nggak apa-apa?” Tanya gue.
“nggak
apa-apa..”jawab sahabat gue menggelengkan kepalanya sambil pegangin pipinya yang merah.
Gue ajak
dia kekantin, berharap disana bu kantin masih punya es batu buat ngompres pipi
sahabat gue. Sekalian minum rasanya energi gue agak berkurang nih.
Untungnya
cewek-cewek manis n cantik itu udah ngeberesin kursi n meja yang tadi sempet
menyingkir ketembok jadi begitu guru masuk kelas, semua kelihatan biasa aja
seperti gak terjadi apa-apa.
Selasa, 27 Maret 2012
Uang receh Rp 50,- ~1
Kalo dipikir-pikir ngapain juga gue sama temen gue
segitunya nyimpen duit receh… jadi inget kembali ditahun 80an. Mau cerita nih..
ngintip aje yee pada..!
Gak lama bel masuk bunyi, obrolan gue sempat
terputus gara-gara suara ribut didepan toilet. Sebelum masuk kelas sekilas gue
liat cowok berbadan agak besar n tinggi
itu lagi marah-marah diantara teman-temannya. Bajunya basah, dan dia baru bisa
keluar dari kamar mandi setelah ada yang bukain. Gue menoleh ke pintu kelas
sebelah sambil mengangkat alis dan tersenyum, disana sahabat gue menahan
tawanya.
Baju putih, rok biru diatas lutut..lengan baju dilipat
sedikit,
hmm…tentu aja orang laen pada ngeliatin, gimana nggak penampilan gue
yang nyentrik kayak listrik begitu menyita perhatian orang yang liat..
hahahhaa..pede banget ye gue.!
Kalo nggak karena gue sayang ma’ nyokap n bokap gue,
mau deh rasanya gue maen aja dirumah tanpa harus bangun pagi-pagi buta mandi n
berangkat ke bangunan putih yang pagernya aja gue naikin kalo udah terlambat.
Hari ini pelajaran pertama menggambar, yang namanya
gambar gue nih jagonya, gambar doang, pelajaran yang laen? Hahaha .. gak
jelek-jelek amat deh,
buktinya gue bisa lulus juga sekolah tinggi. Gue dah
nyiapin kertas gambar A4 yang kemaren
disuruh bawa.
Gak lama bel bunyi nandain pelajaran akan dimulai. saking
rajinnya tuh guru gambar, belum bel aja dia udah nunggu didepan pintu. Mau gak
mau semua anak-anak masuk terburu-buru.
“oke..siapkan kertas gambarnya..” tuh guru mulai
bicara, trus ngebelakangin kita-kita, ngadepin papan tulis triplek warna hitam
dan mulai menarik garis-garis membentuk sesuatu.
Gue liat hampir
semuanya nyiapin kertas dimejanya masing-masing,
ada juga sih yang minta karena gak bawa ,ini
beberapa cowok males n usil dan biasanya cewek-cewek manis yang duduk didepan
itu rajin bawa beberapa lembar, entah karena baik hati mau berbagi atau karena
ada yang ditaksir ,berharap yang
ditaksir minta kertas.
“alamak, kalo kata anak sekarang… lebay dech…kamu.?!
Wah..ternyata tuh guru oke juga gambar standar pemandangan, gunung beserta sawah dan
pohon kelapa mulai terlihat garis-garisnya. Kemudian dia berbalik dan berkata:
“ ya.. silahkan kalian menggambar pemandangan,
terserah apa saja mau laut,gunung silahkan “. Katanya menjelaskan, lalu berbalik
meneruskan coretan garis-garis tadi hingga terbentuk sketsa.
Gue mulai menarik garis disudut kertas yang udah
digaris tepi, eh lagi enak-enaknya bikin garis, tangan gue kesenggol cowok usil
yang duduk dibelakang.
“Aaarrggrrrr…..”. mo marah
rasanya.
Tapi gue kan bukan
tipe pemarah. Ya terpaksa deh gue bangun dari tempat duduk, lirik sana lirik
sini nyari yang punya serutan pensil. Untung aja cewek cantik disudut depan mau
meminjamkannya.
Gue perhatiin guru didepan itu jadi asyik sendiri
dengan gambarnya.
Tiba-tiba muncul ide
jahil gue saat pegang serutan pensil berbentuk bulat yang dibawahnya ada
cerminya ,terus gue cari sinar matahari yang ikut belajar lewat jendela,
membiaskan sinarnya tepat dibelakang kepala guru itu yang nggak ada rambutnya. Kontan
aja semua anak-anak tertawa ngelihat kejahilan gue. Saat suara dah mulai ribut,
guru itu berbalik, gue langsung nyembunyiin serutan yang ada ditangan gue dan
pura-pura sibuk menggambar. Padahal yang ada dikertas gue baru garis doang. Gue
jadi senyum-senyum sendiri, untungnya itu guru gak sadar dikerjain.
“sorry pak..itu cuma iseng, habis kepala bapak menarik
banget sich..menarik sinar matahari…” kata gue dalam hati ngerasa salah juga.
Yah..sayangnya itu berlangsung cuma 1 jam pelajaran jadi,
semuanya mulai sibuk lagi nyiapain pelajaran berikutnya. Pelajaran PMP kalo
sekarang PPKN, entah apa maksudnya, yang jelas dari dulu pelajaran ini
membosankan buat gue, 2 jam pelajaran nulis gak habis-habis, dari atas sampe bawah
papan tulis, trus dihapus bagian atas..nulis lagi..,hapus lagi.. tulis lagi.., mungkin
kalo tuh papan tulis bisa ngomong, dia udah marah digosok ditulisin, digosok
ditulisin terus, udah gitu gurunya dengan santai meninggalkan kelas, cuma ninggalin
pesan suruh dibaca buat latihan hari berikutnya. “ huuuhh… ngebosenin nggak
tuh!!”.
Gak sabar juga pengen cepet-cepet istirahat, tangan gue
udah pegel rasanya sudah gitu tenggorokan gue kering pengen banget minum. Dan akhirnya
kesabaran itu terobati bel istirahat berbunyi tepat ketika tulisan yang ada
diatas akan dihapus. Semua anak-anak berteriak .
“HORE…!!!!”
Segelas es sirup rasa jeruk nyejukin tenggorokan gue,
maklum tadi ketawanya habis-habisan jadi terasa haus banget. Duduk dibawah
pohon ditemani kacang kulit sambil nunggu sahabat gue yang beda kelas. Ini tempat
nongkrong gue sama beberapa sahabat gue saat jam istirahat, tempatnya enak,
bisa liat lapangan voli n basket juga tanah merah tempat biasa upacara
berlangsung.
Disatu titik gue mandangin tanah merah itu, ada pohon akasia kecil
yang baru ajah ditanam. Menghayal entah kemana, membayangkan apa yang bisa gue
raih nanti setelah lulus sama uang receh Rp 50,- yang gue tanam sama sahabat
gue dibawah pohon itu. Satu sahabat gue datang dan langsung menepuk pundak gue
otomatis semua hayalan gue buyar.
“wooy…. Ngelamun lo”. Katanya.
“ah..biasa kayak lo gak tau aja.. lamunan kita kan
sama ?!”. gue coba ngejawab candaannya.
“gue denger tadi lo ngejahilin guru gambar?” katanya
lagi.
“ hahahhaaa… iya, gila ide itu muncul gitu ajah..” gue jawab dengan sedikit tertawa.
“untung lo nggak ketahuan, bisa-bisa lo berdiri depan
kelas..Tengsiiin#…” katanya sambil ketawa .lalu lanjutnya.
“eh lo tau gak cowok yang gede tinggi itu tadi
terlambat..?” #(tengsin= malu)
“oh..itu, tau kenapa emangnya?” Tanya gue.
“tadi waktu pelajaran ke tiga gue pura-pura ijin ke
toilet..lo tau kan toilet cewek n cowok cuma dipisah tembok, tapi atapnya sama,
rupanya cowok itu sembunyi disitu ” . ceritanya setengah berbisik.
Gue liat raut muka sahabat gue yang satu ini agak
mencurigakan, gue.menyelidik, jangan-jangan apa yang gue pikirin benar nih.
“ iya.. “ jawabnya sambil tertawa kencang. Nggak bisa
ditahan lagi gue jadi ikutan ketawa juga setelah yakin sama apa yang barusan
aja terjadi.
“pantesan lo lama banget kesininya..jadi lo ngerjain
tuh cowok”. Pelan gue ngomong. Takut terdengar sama yang laen.
“gue sebel banget, tuh cowok kemaren cari masalah ma
gue, tapi gue diam ajah, gue ga mo ribut didepan banyak orang.” Katanya ngejelasin
alasannya kenapa tuh cowok dikerjain.
Senin, 26 Maret 2012
Ruang biru hatiku. ~5.
Minggu pagi cerah..
Hujan yang mengguyur tadi malam membuat udara pagi ini
terasa sejuk, apalagi sinar mentari tak terhalang oleh awan, hmm…..benar-benar
cerah hari ini.
Aku membayangkan wajahmu yang pucat kemarin, sepertinya aku
ingin melihatmu lagi, tapi dengan wajah cerah seperti hari ini. “apa boleh ya
aku memiliki wajah cerahmu..?” batinku.
“Tuhan… kalau boleh hamba meminta, hamba ingin
memiliki dia, yang sekarang sedang bermain difikiran hamba.. “ pintaku dalam
doa pagi ini.
Sore ini aku ingin kembali menemuinya, aku ingin
mengungkapkan perasaan ku,
aku ingin dia tau kalau dia telah menciptakan ruang
dalam hatiku, sejak pertama bertemu hingga hari ini waktu ku tersita hanya
untuk memikirkan cewek tomboy bertopi yang selalu hadir membayangi langkah ku.
Sepertinya cuaca mendukung perjuanganku nih.. masih
tampak cerah, warna senja mulai terlihat indah. Tak seperti pertama kali pergi
dengannya kali ini aku merasa yakin dengan penampilanku, rasanya dia tak akan
keberatan dengan penampilanku yang penting masih terlihat sopan. Aku tersenyum
sendiri melihat wajahku dicermin.
Rumah itu masih
terlihat indah, lampu taman sudah menyala pagarnya tak terkunci. Ku buka
perlahan menimbulkan bunyi derit besi bergeser, menutupnya kembali dan berjalan
kearah pintu. Aku melihat ada yang mengintip dari balik jendela, entah siapa?.
Belum sampai ku ketuk, pintu sudah terbuka, teman satu
rumahnya tersenyum kepadaku. Menyuruhku masuk dan duduk, sepertinya dia sudah
tau maksudku.
“tunggu ya sebentar dia baru selesai mandi, kamu mau
minum apa?” tanyanya.
“ apa aja deh…terimakasih.” kataku kemudian.
“oke..” jawabnya dan berlalu meninggalkan ku sendiri
diruang tamu yang mungil.
Ku ambil koran tadi pagi dibawah meja, membacanya
membuat diriku merasa agak santai.
Langkah seseorang terdengar menuju ruang
tamu, tapi ternyata bukan dia, temannya yang datang membawa 2 cangkir teh hangat
dengan beberapa buah biscuit krem, menatanya dimeja dan mengijinkanku untuk
menikmatinya, Kemudian masuk kembali .
Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih
lalu kembali membuka halaman koran.
Entahlah begitu asyiknya membolak-balik
koran tanpa sadar cewek tomboy itu sudah berdiri didepanku, kemudian duduk
disamping kursiku.
Aku tersenyum menutupi kekagetanku. Lalu meletakkan koran
ditempat semula.
“ hay..apa kabar?” tanyaku begitu melihatnya duduk.
“baik..” jawabnya singkat.
Aduh..bagaimana ini kata-kataku hilang, sepertinya aku
tak bisa mengutarakan maksud kedatanganku nih..kacau..! batinku mulai meragu. Lidahku
beku.
“rupanya kamu sudah hafal ya jalan kesini..?” tanyanya
menghilangkan semua kebisuan.
“iya…maaf . ya?”
kataku. UPS…!! Aku jadi malu rasanya.
“ gak apa-apa..aku senang kamu datang” katanya.
Cara bicaranya yang enak membawa suasana mulai
mencair, tak ada lagi kebekuan. aku mengikuti alunan kata-katanya, tertawa ,bercanda,
semua cerita mengalir begitu saja seperti air. Sampai pada saat keberanian itu
muncul dalam hatiku.
“aku senang bisa melihatmu malam ini, cerah seperti
yang sering aku lihat, jujur aku merasa kehilangan saat sosokmu tak tampak hari
itu, rasanya ada yang kurang, kamu mulai melengkapi disetiap hariku…” kataku
pelan sambil memandang wajah indah mu.
Kamu diam tertunduk membuat ku ragu untuk meneruskan kata-kataku.
“apa
ya yang ada di fikiranmu , apa aku salah memulai ini semua?” jerit batinku
menerka-nerka.
“ kamu..kamu baik, kamu memang membuat hariku sedikit
berwarna, ketika pertama kali jalan bareng denganmu, tapi aku ragu..” katanya
menggantungkan kalimat.
Aku semakin ragu memulai kembali kata-kataku, apa
boleh buat, aku harus berani memintanya..apapun yang terjadi..aku gak mau ada
penyesalan kemudian.
“ sejujurnya…..aku ingin terus bersamamu, menemanimu,
berbagi rasa juga cerita..boleh aku membawamu ke ruang biru hatiku, karena aku
suka sama kamu..?” lanjutku lagi dan aku
terkejut dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku.
Uuhh… lagi-lagi kamu terdiam, membuatku merasa
seperti..ach.. !!aku gak tahu harus bagaimana ?, pikiran dan perasaanku
benar-benar menunggu jawabanmu, dan aku pasrah dengan semua yang keluar dari
mulut manismu itu.
“boleh aku bicara jujur sama kamu..?” katanya kemudian
membuatku sedikit agak merasa bersalah dengan perkataanku tadi.
"aku juga suka sama kamu, kita coba jalani ini bersama ya..?” jawabnya lembut.
Aaa… seperti tali kuat yang mengekang tubuhku terlepas
begitu saja, hatiku terasa lega, aku membiarkannya masuk kedalam ruang biru
hatiku, aku ingin dia tau, aku menyimpan sebentuk cinta untuknya disitu.
langkahku ringan seperti angin, kini aku tau ruang
biru hatiku telah berpenghuni, aku ingin dia tetap berada disitu, memberikan
semua cinta dan sayangku hingga dia merasa bahagia didalamnya.
~ s e l e s a i
~
Langganan:
Postingan (Atom)