Total Tayangan Halaman

Senin, 02 April 2012

Kerinduan. ~2

Cinta itu datang begitu saja ketika aku tak lagi mengharapkan cinta hadir dalam hidupku. Tadinya aku ragu apakah aku bisa membuka hati yang telah sekian lama beku.

Rasa sakit tentang cinta yang lalu membuatku  berfikir lebih hati-hati tentang sebuah rasa cinta, tanpa kusadari hatiku lama-lama mencair dengan kehadiranmu, perhatianmu, kata-kata manismu, tapi aku masih ragu.
-------------------------- o 0 o -------------------------

Tugas kantor begitu menyita waktuku, hingga sore ini aku belum juga beranjak dari depan meja kerjaku, laporan yang seharusnya sudah selesai siang tadi tertunda gara-gara pertemuan dengan klien yang mendadak, sedikit kecewa dengan keadaan, tapi aku harus menyelesaikannya, aku tak ingin tugas ini membebaniku sampai dirumah. Jadi kuselesaikan semua saat itu juga.

Ku lirik jam ditanganku, 5:15. sepertinya aku tak bisa mampir kerumah sakit , membayangkan jalanan yang super macet saat jam pulang kantor seperti ini dan aku baru saja menyelesaikan laporanku, "HHhhh.. aku butuh istirahat..." keluhku.  ada rasa kecewa menyelimuti dan aku memikirkanmu mungkin saja kamu kecewa aku tak bisa menemanimu sore ini. 
 “maaf….ini diluar kuasaku..” lirihku dalam hati.

 Saat aku tiba sore itu ada rasa sesal kenapa aku tak memenuhi janjiku untuk menengokmu kemarin. Aku melihatmu dari balik kaca yang ada dipintu kamarmu, masih ada seseorang berdiri disamping tempat tidurmu  dia adalah ibumu dan kakakmu,entah kenapa kakakmu pun ada disitu. Oksigen yang menutup sebagian wajahmu telah dilepaskan, nafasmu terlihat teratur dan  suara beep..beep..beep dari alat disamping tempat tidurmu pun tak terdengar lagi. Ada tanda tanya dikepalaku, aku menepis prasangka yang mulai muncul.
Ku ketuk ruanganmu, membuka pintunya dan masuk perlahan ketika ibumu tersenyum melihatku.

“assalamualaikum..… “ sapaku.

‘waalaikumusalam…” jawab ibu dan kakakmu bersamaan.

Kamu hanya melambaikan tanganmu pelan diatas tempat tidur.
Mencium tangan ibumu dan memberinya sedikit pelukan kecil lalu menjabat tangan kakakmu dan tersenyum. Aku mendekatimu kemudian duduk disamping tempat tidurmu.

“hey…maaf..kemaren aku harus menyelesaikan tugas kantorku jadi....” kata-kataku terputus.
Kamu mengangguk pelan mendekatkan ujung telunjuk dibibirmu yang pucat. 

“sst..gak apa-apa..aku mengerti “ .katamu hampr tak terdengar.

“oh ya.. salamnya sudah aku sampaikan dan teman-teman akan kemari besok..” lanjutku.

“ ya..terimakasih.” jawabmu lalu memejamkan mata, seperti ada yang kamu rasakan.

Aku tak berani bertanya padamu, melirik wajah ibumu yang menunduk perlahan saat matanya bertatapan denganku. Sore itu tak banyak cerita aku lebih banyak diam memandangi wajah dan tubuhmu yang terlihat begitu lemah.
Aku pamit, mengelus lembut tanganmu dan seperti biasa membisikan sebuah kata,
kamu mengangguk dan tersenyum.
Aku meninggalkanmu dengan tatapan wajahmu yang begitu sayu, menjajari langkah  ibumu yang mengantarku sampai dibalik pintu. Sebelum pergi aku memberanikan diriku bertanya.

“maaf bunda…sebenarnya apa yang terjadi..?”

“….dokter sudah tidak bisa menyembuhkannya sayang..besok bunda akan bawa dia pulang..” jawab bunda sambil menunduk menahan isaknya.

Aku terkejut, ingin menangis tapi tak bisa, yang ku lakukan hanya memeluk erat  ibumu. Melukiskan perasaan yang sama perlahan ku lepaskan pelukanku, mencium punggung tangannya lalu pamit..meninggalkannya sendiri didepan pintu kamarmu.


Malam ini aku tak bisa melukiskan perasaanku, hanya sajadah panjang tempatku bersimpuh memohon kepada Sang pemilik Jiwa..untuk memberikanmu keajaiban atas penyakitmu. airmata ku biarkan jatuh satu satu menenggelamkan diriku dalam doa untukmu.

Minggu, 01 April 2012

Kerinduan. ~1

Macet…macet..macet..huh! padahal aku harus kerumah sakit, mungkin saja kamu sudah menungguku. ‘maaf ya…aku gak bisa tepat waktu kali ini”. Batinku.
Melewati mobil satu persatu akhirnya aku bisa sampai juga didepan bangunan besar berwarna putih. Kuparkirkan kendaraanku  dan buru-buru masuk kedalamnya. 
Wangi pembersih lantai yang menyengat ditambah bau obat rasanya memenuhi disetiap ruangannya. Dan aku harus membiasakan diriku.

Kamu masih terbaring disana,dikamar berwarna hijau tosca lembut, selang infus masih menempel dipergelanganmu, oksigen masih menutup sebagian wajahmu dan alat itu masih saja mendampingi dengan bunyi beep..beep..beep..kabel-kabelnya masih menempel rapih didadamu.
Kamu masih tertidur, kulangkahkan kakiku kesudut dekat jendela mengganti bunga dilemari kecil yang sudah layu, merapihkan selimutmu yang sedikit berantakan.
Dari lantai ini aku bisa melihat jauh pemandangan kota dengan tata letaknya yang rumit. Melepas semua himpitan rasa yang selalu saja hadir setiap kali aku datang kemari menjengukmu. Sejenak aku memandangi wajahmu yang tirus,
“aku takut kehilangan kamu”. lirihku dalam hati.
Dan tak terasa tetes bening telah jatuh membasahi  pipiku. Aku menangis..aku menangis..dan aku menangis dalam kerinduan. Ku hapus air mataku saat ku lihat ada pergerakan dari tubuhmu, kamu terbangun rupanya.

“hay…aku disini..maaf agak terlambat”. Kataku pelan dari sudut kamar dekat jendela. 
 Aku menghampiri, berdiri disebelah tempat tidur. Melihat kamu tersenyum, senyum indah yang dipaksakan. Aku tau betapa kamu mau memberikan senyum itu untukku.

“Bagaimana kamu hari ini”. Tanyaku lembut sambil memegang tanganmu.

Kamu hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan kamu merasa baik hari ini. Aku tersenyum mengetahuinya.

“mau kuteruskan cerita yang kemarin?”. Tanyaku menawarkan buku yang tergeletak dimeja sudut kecil itu.

Kamu menggeleng, dan mengatakan sesuatu, tapi tak ku dengar jadi aku harus mendekatkan wajahku.

“aku hanya ingin memdengar ceritamu hari ini “ katanya pelan.

Entah harus memulai dari mana ceritaku hari ini, aku mulai mengingat apa saja yang aku lakukan hari ini, dimulai dari pagi, kekantor seperti biasanya lalu sebelum pulang aku kemari menjenguk kamu, tapi sepertinya membosankan untuk diceritakan. Baru saja aku mau mulai bicara, seorang suster masuk. Aku tersenyum kearahnya.

“permisi…mas, mbak.. periksa dulu ya”. Katanya mendekati tempat tidur. Menyelipkan thermometer keketiakmu dan memeriksa denyut nadimu. Dan beberapa menit kemudian berlalu.

“oh ya..teman-teman tadi titip salam, mereka mendoakan kamu biar cepat sembuh dan bisa kumpul lagi sama mereka”. Kataku.

“mm….terimakasih, salamku kembali ya..” katamu hampir tak terdengar.

Lalu aku mulai cerita apa saja kegiatanku hari ini sampai aku berada disini saat ini.
 Jam besuk sudah lewat, aku harus mengakhiri ceritaku, rasanya berat meninggalkanmu disini..,tapi  kakakmu datang, aku sedikit lega.

“aku pamit dulu ya…sudah waktunya pulang, besok aku kesini lagi, tunggu aku”. Kataku.
Lalu kudekatkan wajahku, membisikan sesuatu ditelingamu dan kamu pun tersenyum

“trimakasih..” jawabmu sambil mengangguk perlahan, berat melepas tanganku pergi.
Aku memandangmu meyakinkanmu bahwa aku pasti kesini lagi besok.

Sepi…malam sepertinya beranjak perlahan, membawa aku pada keindahan dirimu.
Setiap malam seperti ini menjelang tidur, kamu pasti menitipkan salam rindu mu lewat kata-kata manis di handpone ku, aku senang membacanya, membalas salam rindumu dengan kata-kata indah membawa kita pada mimpi yang sama yaitu ….kebersamaan

Jumat, 30 Maret 2012

Uang receh Rp 50,- ~3

Malam ini hujan..udara terasa dingin.
Ditemani susu coklat panas sama macaroni panggang.
Gue duduk setelah beberapa saat tadi gue terima telpon dari sahabat gue.
Ada rasa kangen ingin ketemu lagi.

Gak terasa udah 20th, gue ninggalin bagunan putih itu, tinggal jauh diseberang pulau menemani suami dan jagoan-jagoan gue. liburan panjang kemaren gue sempet ketemu sama sahabat gue, kita ngobrol bareng sampe nggak sadar kalo kita sekarang udah sama-sama dewasa, ngetawain tingkah polah kita saat sekolah dulu, uang receh Rp 50,- itu tinggal  kenangan yang gak akan terlupakan. 

Uang itu tak pernah terkumpul hingga cukup banyak, karena tiap kali kita merasa kehausan, kita gak tahan untuk membongkarnya, maklum aja kita bukan dari golongan orang berada seperti yang laen, kita tidak bisa meminta lebih uang saku dari orang tua kita dan kita merasa bersyukur  karena nyokap n bokap kita udah mau nyekolahin kita disekolah yang bagus.

Tapi dari uang receh itu. Kita jadi punya impian, kita jadi punya cita-cita, punya rencana apa yang akan kita lakukan nanti, belajar berhemat untuk sesuatu yang kita inginkan,
belajar bersabar, mau berusaha.
dan kita tidak malu mengakui kalo kita memang bukan dari kalangan berada.

Mungkin apa yang gue sama sahabat gue lakukan itu kelihatan bodoh, mengejar mimpi punya mobil starlet dengan mengumpulkan uang receh yang ditanam dibawah pohon akasia.
Tapi itulah hidup..kita jadi belajar tentang hidup dari uang receh itu.
Baru terasa sekarang setelah kita udah sama-sama memasuki  masa kedewasaan, kerja ngumpulin uang, berusaha dan sabar hingga akhirnya mimpi dan cita-cita itu bisa kita raih juga.

Oh ya… soal cowok tinggi gede itu, gue belom ketemu lagi tapi setelah kejadian diruang kelas itu akhirnya kita  jadi temenan, dia sepertinya sadar dengan apa yang dia lakukan itu gak benar. Entah dimana dia sekarang?. Semoga dia jadi orang sukses.

20th, berlalu. Dan gue bisa cerita sama anak-anak gue tentang uang receh Rp 50,- itu, mungkin aja cerita ini bisa didengar sama cucu cicit gue nanti. Jadi jangan takut untuk bermimpi.. kalo kita mau berusaha dan sabar mimpi itu akan jadi nyata.

thanks guys udah mau dengerin cerita kecil gue ini..

Kamis, 29 Maret 2012

Uang receh Rp 50,- ~2

Pohon akasia kecil itu masih disana, hujan tadi malam membuat daun-daun hijaunya kelihatan segar, gue asyik mandanginnya dari tempat biasa gue n sahabat gue duduk dibawah pohon yang ada ditaman sekolah. Bel istirahat udah 5 menit yang lalu bunyi, tapi sahabat gue ini belum juga nunjukin batang hidungnya. “ kemana sih dia?” pikir gue.
Ach..gue gak bisa nunggu, jam istirahatkan  15 menit. Gue berdiri ngelangkahin kaki ke pohon akasia kecil itu, tanah merah ini agak basah, tapi untuk aja gak becek. Pake bambu kecil gue gali tanah disebelah batangnya. Bungkusan plastik transparan dengan karet gelang merah pengikatnya menyembul diantara tanah yang gue gali. Gue tersenyum. Sahabat gue datang dengan sedikit berlari.

“sory..tadi gue ada urusan bentar” katanya sambil ngatur nafas.

“gue pikir lo lupa kemari..?” jawab gue santai.

“ ya..nggak lah gue tadi dapet aduan dari temen-temen cewek katanya cowok tinggi gede itu cari masalah, ngomong yang gak pantes sama cewek-cewek itu..” jelasnya.

“ya udah ntar kita datengin tuh cowok” kata gue lagi sambil ngebuka bungkusan plastik kecil itu, terus memasukan uang receh gocapan ke dalamnya.

“ nih uang gue”. Kata sahabat gue sambil  ngasihin uang gocapan yang ada dikantong bajunya.

Gue ikat lagi bungkusan itu lalu sama-sama menguburnya kembali, ngerapihin tanah disekitarnya biar gak kelihatan mencurigakan, cos hal ini cuma gue n sahabat gue aja yang tahu. Sambil menepuk-nepuk tangan ngebersihin tanah yang nempel, gue n sahabat gue berlalu, gak lupa buat nengok lagi kebelakang ke pohon akasia itu dan tersenyum.

“yuk..kita harus hadapin cowok itu?” ajak gue
.
Gue pikir cewek-cewek itu cuma kesel aja ma nih cowok tinggi gede tapi rupanya dia juga bikin gue jadi meradang ngedengerin ejekan-ejekannya yang gak pantes didenger.
Sebenarnya gue gak mau ribut disekolah tapi gue juga kan cewek, cuma penampilan gue aja yang kayak cowok. Entah gue sendiri gak ngerti kenapa tuh cowok seneng banget ngomong yang gak etis dikelas gue udah negor  dia baik-baik, eh tenyata dia malah nantangin gue berantem. Eiitss..sory..sory..jack lo pikir gue takut sama lo.? orang betawi bilang “ gue jabanin yang lo mao..!”.

Alhasil kelas yang tadinya rapi gue sulap jadi arena tinju, kursi n meja nyingkir dari tempatnya. Merasa dibelain cewek-cewek manis n cantik itu berteriak-teriak ngasih semangat gue. Rupanya itu bikin cowok tinggi gede itu merasa kesel. Gue yang berdiri samping sahabat gue mulai jaga-jaga nih. Percuma dong gue punya sabuk biru asuhannya pak Jodi guru karate.
Cowok itu melayangkan pukulannya, gue pikir gue sasaranya jadi gue ngeles dong, ternyata pikiran gue sama  dengan sahabat gue, tapi dia gak nyingkir karena dia berada cukup jauh dari jangkauan tuh cowok. Tiba-tiba…

“buukk..”  sahabat gue agak oleng kebelakang pipinya kena pukul, agak meringis dia nahan sakit. Gue jadi kaget plus heran, harusnya tuh pukulan meleset dong.
Ternyata eh..ternyata  mata tuh cowok gak jelas kayak kita-kita alias juling. Rupanya tujuan dia mukul sebenarnya ya, ke sahabat gue ini. Gue sebenarnya mau ketawa, tapi pas pukulan itu sekarang mengarah ke gue,  gue langsung berkelit  sambil ngasih balasan.

“hegg.. tuh cowok terhuyung beberapa langkah kena tendangan gue. Seisi ruangan jadi ribut gak karuan. Itu cowok bales lagi, gue ngeles lagi, sekarang pukulan gue yang ngenain wajahnya.
Gue tangkis tangan dia dan dia mundur setelah tendangan gue yang ke dua ngenain perutnya.
Gue udah siap-siap tungguin lagi apa reaksinya. Ternyata dia pergi dari kelas sama beberapa temannya dengan muka menahan sakit.

Disudut gue samperin sahabat gue kelihatanya dia masih menahan sakit, pipinya terlihat agak merah. Gue bisa ngerasaain apa yang sahabat gue rasain saat itu.

“lo nggak apa-apa?” Tanya gue.

“nggak apa-apa..”jawab sahabat gue menggelengkan kepalanya sambil pegangin pipinya yang merah.

Gue ajak dia kekantin, berharap disana bu kantin masih punya es batu buat ngompres pipi sahabat gue. Sekalian minum rasanya energi gue agak berkurang nih.
Untungnya cewek-cewek manis n cantik itu udah ngeberesin kursi n meja yang tadi sempet menyingkir ketembok jadi begitu guru masuk kelas, semua kelihatan biasa aja seperti gak terjadi  apa-apa.

Sumpah..!! hari ini bener-bener melelahkan. PR udah gue kerjain, bener apa salahnya gue gak tahu deh tuh..yang pasti saat ini yang gue butuhin cuma tidur cos mata gue udah 5 watt berharap gue dapet mimpi indah malam ini, mimpi tentang mobil starlet warna merah hati yang pengen banget gue miliki.

Selasa, 27 Maret 2012

Uang receh Rp 50,- ~1

Kalo dipikir-pikir ngapain juga gue sama temen gue segitunya nyimpen duit receh… jadi inget kembali ditahun 80an. Mau cerita nih.. ngintip aje yee pada..!

Baju putih, rok biru diatas lutut..lengan baju dilipat sedikit,
hmm…tentu aja orang laen pada ngeliatin, gimana nggak penampilan gue yang nyentrik kayak listrik begitu menyita perhatian orang yang liat.. hahahhaa..pede banget ye gue.!
Kalo nggak karena gue sayang ma’ nyokap n bokap gue, mau deh rasanya gue maen aja dirumah tanpa harus bangun pagi-pagi buta mandi n berangkat ke bangunan putih yang pagernya aja gue naikin kalo udah terlambat.

Hari ini pelajaran pertama menggambar, yang namanya gambar gue nih jagonya, gambar doang, pelajaran yang laen? Hahaha .. gak jelek-jelek amat deh,
buktinya gue bisa lulus juga sekolah tinggi. Gue dah nyiapin kertas gambar  A4 yang kemaren disuruh bawa.
Gak lama bel bunyi nandain pelajaran akan dimulai. saking rajinnya tuh guru gambar, belum bel aja dia udah nunggu didepan pintu. Mau gak mau semua anak-anak masuk terburu-buru.

“oke..siapkan kertas gambarnya..” tuh guru mulai bicara, trus ngebelakangin kita-kita, ngadepin papan tulis triplek warna hitam dan mulai menarik garis-garis membentuk sesuatu.

Gue liat  hampir semuanya nyiapin kertas dimejanya masing-masing,
ada juga sih yang minta karena gak bawa ,ini beberapa cowok males n usil dan biasanya cewek-cewek manis yang duduk didepan itu rajin bawa beberapa lembar, entah karena baik hati mau berbagi atau karena ada yang ditaksir ,berharap  yang ditaksir minta kertas.

“alamak, kalo kata anak sekarang… lebay dech…kamu.?!

Wah..ternyata tuh guru oke juga gambar  standar pemandangan, gunung beserta sawah dan pohon kelapa mulai terlihat garis-garisnya. Kemudian dia berbalik dan berkata:

“ ya.. silahkan kalian menggambar pemandangan, terserah apa saja mau laut,gunung silahkan “. Katanya menjelaskan, lalu berbalik meneruskan coretan garis-garis tadi hingga terbentuk sketsa.

Gue mulai menarik garis disudut kertas yang udah digaris tepi, eh lagi enak-enaknya bikin garis, tangan gue kesenggol cowok usil yang duduk dibelakang.
 “Aaarrggrrrr…..”. mo marah rasanya.

Tapi gue kan bukan tipe pemarah. Ya terpaksa deh gue bangun dari tempat duduk, lirik sana lirik sini nyari yang punya serutan pensil. Untung aja cewek cantik disudut depan mau meminjamkannya.

Gue perhatiin guru didepan itu jadi asyik sendiri dengan gambarnya.
Tiba-tiba muncul  ide jahil gue saat pegang serutan pensil berbentuk bulat yang dibawahnya ada cerminya ,terus gue cari sinar matahari yang ikut belajar lewat jendela, membiaskan sinarnya tepat dibelakang kepala guru itu yang nggak ada rambutnya. Kontan aja semua anak-anak tertawa ngelihat kejahilan gue. Saat suara dah mulai ribut, guru itu berbalik, gue langsung nyembunyiin serutan yang ada ditangan gue dan pura-pura sibuk menggambar. Padahal yang ada dikertas gue baru garis doang. Gue jadi senyum-senyum sendiri, untungnya itu guru gak sadar dikerjain.

“sorry pak..itu cuma iseng, habis kepala bapak menarik banget sich..menarik sinar matahari…” kata gue dalam hati ngerasa salah juga.

Yah..sayangnya  itu berlangsung cuma 1 jam pelajaran jadi, semuanya mulai sibuk lagi nyiapain pelajaran berikutnya. Pelajaran PMP kalo sekarang PPKN, entah apa maksudnya, yang jelas dari dulu pelajaran ini membosankan buat gue, 2 jam pelajaran  nulis gak habis-habis, dari atas sampe bawah papan tulis, trus dihapus bagian atas..nulis lagi..,hapus lagi.. tulis lagi.., mungkin kalo tuh papan tulis bisa ngomong, dia udah marah digosok ditulisin, digosok ditulisin terus, udah gitu gurunya dengan santai meninggalkan kelas, cuma ninggalin pesan suruh dibaca buat latihan hari berikutnya. “ huuuhh… ngebosenin nggak tuh!!”.

Gak sabar juga pengen cepet-cepet istirahat, tangan gue udah pegel rasanya sudah gitu tenggorokan gue kering pengen banget minum. Dan akhirnya kesabaran itu terobati bel istirahat berbunyi tepat ketika tulisan yang ada diatas akan dihapus. Semua anak-anak berteriak .

“HORE…!!!!”

Segelas es sirup rasa jeruk nyejukin tenggorokan gue, maklum tadi ketawanya habis-habisan jadi terasa haus banget. Duduk dibawah pohon ditemani kacang kulit sambil nunggu sahabat gue yang beda kelas. Ini tempat nongkrong gue sama beberapa sahabat gue saat jam istirahat, tempatnya enak, bisa liat lapangan voli n basket juga tanah merah tempat biasa upacara berlangsung.
Disatu titik gue mandangin tanah merah itu, ada pohon akasia kecil yang baru ajah ditanam. Menghayal entah kemana, membayangkan apa yang bisa gue raih nanti setelah lulus sama uang receh Rp 50,- yang gue tanam sama sahabat gue dibawah pohon itu. Satu sahabat gue datang dan langsung menepuk pundak gue otomatis semua hayalan gue buyar.

“wooy…. Ngelamun lo”. Katanya.

“ah..biasa kayak lo gak tau aja.. lamunan kita kan sama ?!”. gue coba ngejawab candaannya.

“gue denger tadi lo ngejahilin guru gambar?” katanya lagi.

“ hahahhaaa… iya, gila ide itu muncul gitu ajah..”  gue jawab dengan sedikit tertawa.

“untung lo nggak ketahuan, bisa-bisa lo berdiri depan kelas..Tengsiiin#…” katanya sambil ketawa .lalu lanjutnya.
“eh lo tau gak cowok yang gede tinggi itu tadi terlambat..?”                     #(tengsin= malu)

“oh..itu, tau kenapa emangnya?” Tanya gue.

“tadi waktu pelajaran ke tiga gue pura-pura ijin ke toilet..lo tau kan toilet cewek n cowok cuma dipisah tembok, tapi atapnya sama, rupanya cowok itu sembunyi disitu ” . ceritanya setengah berbisik.

Gue liat raut muka sahabat gue yang satu ini agak mencurigakan, gue.menyelidik, jangan-jangan apa yang gue pikirin benar nih.

“ iya.. “ jawabnya sambil tertawa kencang. Nggak bisa ditahan lagi gue jadi ikutan ketawa juga setelah yakin sama apa yang barusan aja terjadi.

“pantesan lo lama banget kesininya..jadi lo ngerjain tuh cowok”. Pelan gue ngomong. Takut terdengar sama yang laen.

“gue sebel banget, tuh cowok kemaren cari masalah ma gue, tapi gue diam ajah, gue ga mo ribut didepan banyak orang.” Katanya ngejelasin alasannya kenapa tuh cowok dikerjain. 

Gak lama bel masuk bunyi, obrolan gue sempat terputus gara-gara suara ribut didepan toilet. Sebelum masuk kelas sekilas gue liat  cowok berbadan agak besar n tinggi itu lagi marah-marah diantara teman-temannya. Bajunya basah, dan dia baru bisa keluar dari kamar mandi setelah ada yang bukain. Gue menoleh ke pintu kelas sebelah sambil mengangkat alis dan tersenyum, disana sahabat gue menahan tawanya.

Senin, 26 Maret 2012

Ruang biru hatiku. ~5.

Minggu pagi cerah..

Hujan yang mengguyur tadi malam membuat udara pagi ini terasa sejuk, apalagi sinar mentari tak terhalang oleh awan, hmm…..benar-benar cerah hari ini.
Aku membayangkan wajahmu yang pucat kemarin, sepertinya aku ingin melihatmu lagi, tapi dengan wajah cerah seperti hari ini. “apa boleh ya aku memiliki wajah cerahmu..?” batinku.

“Tuhan… kalau boleh hamba meminta, hamba ingin memiliki dia, yang sekarang sedang bermain difikiran hamba.. “ pintaku dalam doa pagi ini.

Sore ini aku ingin kembali menemuinya, aku ingin mengungkapkan perasaan ku,
aku ingin dia tau kalau dia telah menciptakan ruang dalam hatiku, sejak pertama bertemu hingga hari ini waktu ku tersita hanya untuk memikirkan cewek tomboy bertopi yang selalu hadir membayangi langkah ku.

Sepertinya cuaca mendukung perjuanganku nih.. masih tampak cerah, warna senja mulai terlihat indah. Tak seperti pertama kali pergi dengannya kali ini aku merasa yakin dengan penampilanku, rasanya dia tak akan keberatan dengan penampilanku yang penting masih terlihat sopan. Aku tersenyum sendiri melihat wajahku dicermin.

Rumah itu  masih terlihat indah, lampu taman sudah menyala pagarnya tak terkunci. Ku buka perlahan menimbulkan bunyi derit besi bergeser, menutupnya kembali dan berjalan kearah pintu. Aku melihat ada yang mengintip dari balik jendela, entah siapa?.
Belum sampai ku ketuk, pintu sudah terbuka, teman satu rumahnya tersenyum kepadaku. Menyuruhku masuk dan duduk, sepertinya dia sudah tau maksudku.

“tunggu ya sebentar dia baru selesai mandi, kamu mau minum apa?”  tanyanya.

“ apa aja deh…terimakasih.” kataku kemudian.

“oke..” jawabnya dan berlalu meninggalkan ku sendiri diruang tamu yang mungil.

Ku ambil koran tadi pagi dibawah meja, membacanya membuat diriku merasa agak santai.
Langkah seseorang terdengar menuju ruang tamu, tapi ternyata bukan dia, temannya yang datang membawa 2 cangkir teh hangat dengan beberapa buah biscuit krem, menatanya dimeja dan mengijinkanku untuk menikmatinya, Kemudian masuk kembali .

Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih lalu kembali membuka halaman koran.
Entahlah begitu asyiknya membolak-balik koran tanpa sadar cewek tomboy itu sudah berdiri didepanku, kemudian duduk disamping kursiku.
Aku tersenyum menutupi kekagetanku. Lalu meletakkan koran ditempat semula.

“ hay..apa kabar?” tanyaku begitu melihatnya duduk.

“baik..” jawabnya singkat.

Aduh..bagaimana ini kata-kataku hilang, sepertinya aku tak bisa mengutarakan maksud kedatanganku nih..kacau..! batinku mulai meragu. Lidahku beku.

“rupanya kamu sudah hafal ya jalan kesini..?” tanyanya menghilangkan semua kebisuan.

“iya…maaf . ya?”  kataku. UPS…!! Aku jadi malu rasanya.

“ gak apa-apa..aku senang kamu datang”  katanya.

Cara bicaranya yang enak membawa suasana mulai mencair, tak ada lagi kebekuan. aku mengikuti alunan kata-katanya, tertawa ,bercanda, semua cerita mengalir begitu saja seperti air. Sampai pada saat keberanian itu muncul dalam hatiku.

“aku senang bisa melihatmu malam ini, cerah seperti yang sering aku lihat, jujur aku merasa kehilangan saat sosokmu tak tampak hari itu, rasanya ada yang kurang, kamu mulai melengkapi disetiap hariku…” kataku pelan sambil memandang wajah indah mu.

Kamu diam tertunduk  membuat ku ragu untuk meneruskan kata-kataku.

“apa ya yang ada di fikiranmu , apa aku salah memulai ini semua?” jerit batinku menerka-nerka.

“ kamu..kamu baik, kamu memang membuat hariku sedikit berwarna, ketika pertama kali jalan bareng denganmu, tapi aku ragu..” katanya menggantungkan kalimat.

Aku semakin ragu memulai kembali kata-kataku, apa boleh buat, aku harus berani memintanya..apapun yang terjadi..aku gak mau ada penyesalan kemudian.

“ sejujurnya…..aku ingin terus bersamamu, menemanimu, berbagi rasa juga cerita..boleh aku membawamu ke ruang biru hatiku, karena aku suka sama kamu..?”  lanjutku lagi dan aku terkejut dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku.

Uuhh… lagi-lagi kamu terdiam, membuatku merasa seperti..ach.. !!aku gak tahu harus bagaimana ?, pikiran dan perasaanku benar-benar menunggu jawabanmu, dan aku pasrah dengan semua yang keluar dari mulut manismu itu.

“boleh aku bicara jujur sama kamu..?” katanya kemudian membuatku sedikit agak merasa bersalah dengan perkataanku tadi.
"aku juga suka sama kamu, kita coba  jalani ini bersama ya..?”  jawabnya lembut.

Aaa… seperti tali kuat yang mengekang tubuhku terlepas begitu saja, hatiku terasa lega, aku membiarkannya masuk kedalam ruang biru hatiku, aku ingin dia tau, aku menyimpan sebentuk cinta untuknya disitu.
langkahku ringan seperti angin, kini aku tau ruang biru hatiku telah berpenghuni, aku ingin dia tetap berada disitu, memberikan semua cinta dan sayangku hingga dia merasa bahagia didalamnya.

                                                              ~   s e l e s a i  ~